Ngopi, Yuk….

coffe_filosofi_by_bengsin

“Ngopi yuk,” ajak salah satu temen kostku, Anton. Dari sepuluh penghuni kost tempatku tinggal, hanya aku yang bersedia menerima ajakan itu. Yang lainnya menolak dengan alasan sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Aku juga sebenarnya sedang mengerjakan tugas kantor, tapi berhubung ada embel-embel gratis dari ajakan Anton tersebut, aku yang penggila minuman berkafein itu langsung dengan senang hati menerimanya.

Kami cukup berjalan kaki menuju warung kopi di pinggir jalan yang sudah jadi langganan kami. Kami memilih untuk menikmati kopi di warung kopi karena kami bisa mendapatkan sesuatu yang lebih dari hanya secangkir kopi. Tidak hanya pisang goreng atau tempe goreng yang kami dapat sebagai teman ngopi kami, tapi kami juga bisa mendapatkan teman baru atau mendapatkan sesuatu yang baru yang tidak kami tahu sebelumnya. Tentu semua itu kami dapatkan dari obrolan orang-orang yang ada di warung kopi tersebut. Sesuatu yang tidak bisa kami dapatkan saat membuat kopi di kost-kostan. Kalau hanya untuk menikmati secangkir kopi, tentu kami bisa membuatnya di kost.

“Biasa Bu, kopi spesial,” pintaku pada Ibu penjaga warung kopi. Ibu itu sudah tahu kopi seperti apa yang jadi kegemaranku.

“Sama Bu, kopi spesial juga,” ujar Anton menyebutkan pesanannya. Sepertinya dia gak mau kalah denganku, makanya dia memesan kopi seperti yang aku pesan tadi, kopi special!

Tak butuh waktu yang lama kopi pesananku sudah tersaji dihadapanku. Aroma kopi itu benar-benar menggoda indra penciumanku. Tak sabar rasanya untuk segera menghirupnya. Ditemani pisang goreng yang masih hangat, menjadi sempurnalah kenikmatan secangkir kopi gratisan malam ini.

“Ini kopi apaan sih?!” teriak Anton tiba-tiba.

Aku yang duduk disebelahnya jadi merasa terganggu. Membuat seleraku jadi rusak. “Apaan sih?” tanyaku kesal.

“Kopinya kok pahit. Nggak ada manis-manisnya. Katanya special!” protes Anton lagi.

Ibu penjaga warung kopi jadi tersenyum geli melihat tingkah Anton yang berulang kali meludah karena rasa pahit di lidahnya. “Kopi spesialnya memang gak pake gula, Mas. Kan tadi Mas sendiri yang pesen,” jawab Ibu penjaga warung gak mau disalahkan.

“Jadi kopi spesial yang selama ini kamu minum itu kopi tanpa gula?” tanya Anton sembari menatapku meminta jawaban.

Aku mengangguk.

“Kamu aneh, ya? Apa enaknya coba kopi pahit seperti itu?”

“Namanya juga selera, Mas,” jawab Ibu penjaga warung seolah-olah ingin membelaku.

“Dengerin tuh kata si Ibu. Namanya juga selera, boleh beda dong!” balasku lagi.

“Tapi seleramu itu aneh!” ujar Anton lagi yang sepertinya kurang puas dengan jawabanku tadi.

“Terserah orang mau anggap seleraku ini aneh. Bagi aku, kalau seseorang ingin menikmati secangkir kopi yang sesungguhnya, ya harus menikmati kopi seperti yang aku minum. Karena aroma dan rasanya bener-bener jujur apa adanya. Bener-bener rasa kopi yang sesungguhnya. Bukan karena manisnya gula atau gurihnya susu.”

“Emang ada yang salah dengan kopi manis atau kopi susu?” tanya Anton lagi.

“Nggak ada yang salah. Menurut aku, kopi yang sudah bercampur gula atau susu akan menyamarkan rasa kopi yang sesungguhnya. Walau rasanya memang lebih nikmat. Ya, kalau mau menikmati kopi sesungguhnya yang harus pahit karena rasa kopi itu memang pahit. Kalau pengen manis mending sekalian minum sirup atau minum susu.”

“Oh begitu, ya…”

“Bagi aku, kopi pahit itu adalah sebuah simbol kejujuran. Aku suka karena dengan secangkir kopi pahitlah aku bisa menemukan sebuah kejujuran. Kejujuran yang zaman sekarang ini susah didapatkan.”

“Maksudnya?”

“Kamu masih sering pinjem mobilnya Rangga kan buat antar jemput Rara? Trus pasti kamu bilang ke Rara kalau mobil yang kamu pake itu adalah mobil kamu, iya kan?” tanyaku pada Anton.

“Kok jadi aku yang dibawa-bawa?” protes Anton.

“Itu cuma contoh kecil saja, kawan. Kamu tahu sendiri kan banyak diantara kita yang berusaha dengan segala cara agar terlihat lebih keren, lebih wah dan terlihat lebih baik. Padahal sejatinya orang itu gak lebih baik dari apa yang selama ini kita lihat.”

“Itu berarti mereka gak jujur sama diri mereka sendiri. Sama diri sendiri saja gak jujur, gimana dengan orang lain?” tanya Anton mengambil kesimpulan sendiri.

“Memang seperti itulah yang terjadi. Yang jadi masalah adalah menjadi seorang yang jujur dalam hidup ini nggak mudah, jujur itu pahit. Karena susah dan pahit, jadi gak semua orang bisa bersikap jujur, baik untuk dirinya sendiri atau orang lain. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melakukan itu. Sama juga dengan kopi. Kopi itu sebenarnya rasanya pahit. Karena pahit makanya banyak orang gak suka. Kebanyakan orang minum kopi dengan ditambah gula atau susu, memang masih terasa kopinya, tapi rasa kopi yang sebenarnya jadi tersamar dengan manisnya gula atau gurihnya susu.”

Anton hanya manggut-manggut mendengar kata-kataku barusan. Antara mengerti atau tidak. Entahlah…

“Kamu juga gak jujur kan sama Dina, pacarmu itu. Kamu pasti belum ngaku kalau kamu bukan seorang pengusaha?” selidik Anton padaku.

Aku mengangguk pasrah. Anton langsung tertawa melihat jawabanku. Melihatnya tertawa, aku pun ikutan tertawa. Kami berdua tertawa bersama. Menertawai ketidakjujuran kami pada pasangan kami masing-masing. Aku memang belum bisa sepenuhnya jujur pada diri sendiri, tapi setidaknya aku bisa menikmati kejujuran dari secangkir kopi yang selalu menawarkan rasa aslinya, pahit.

51 thoughts on “Ngopi, Yuk….

  1. @Zulhaq : kopi, lambung gak kuat? Hmmmm emang lu cocoknya minum tuak ato bir ajah !😀

    Hmmm untung temenmu si Anton itu gak ngamuk2 ditodong pertanyaan2 menghakimi begitu😉

    rasa kopi memang pilihan…
    Tapi gue siiiy tetep suka cappucinno dunk😉

  2. Filosofinya tinggi. Kita kadang kalang kabut pinjam sana-sinisebelum wakuncar agar dikira wah ha..ha.
    Orang asing juga suka minum susu tanpa dikasih gulu lho. Dulu saya heran kok mereka senang. Tapi saya tetap tidak suka minum kopi atau susu tanpa gula.
    Salam hangat dari Surabaya

  3. Saya suka kopi tp kopi yang disamarkan dalam bentuk caramel machiato, ato cappucino. Kopi blek kurang suka kecualiiiiiiii kalo kopi yang saya minum adalah kopi di salah 1 warung kopi di siantar. Itu baru nikmat, hrs saya akui nikmat bener… Terkenal dari jaman Indonesia baru merdeka. Utk kopi senikmat itu, saya akan mengkesampingkah teh yg selama ini jd fave saya.

    Eniwei, kejujuran itu memang penting ya. Tp kalo kita belum bisa jujur sama gebetan, biasanya itu karena kita belum anggap si doi memang pilihan yg benar… hihihii….

    • Kalo boleh jujur, saya juga lebih suka kopi yang disamarkan, kok hehehe….
      Gak jujur sama gebetan cuma contoh kecil dari banyaknya ketidakjujuran yang dilakukan manusia di muka bumi ini…

  4. untung harga gula sekarang ini membumbung setinggi langit, sehingga banyak org menikmati kopi pahit, kejujuran secangkir kopi.
    **diiringi dengan harapan spy kita mulai belajar dari rasa kopi yg sesungguhnya, tanpa tercampur beras atau jagung… rasa yg jujur..

    • Selain jujur, minum kopi pahit adalah sebuah penghematan disaat harga gula sekarang yang melambung tinggi, gitu ya Mas Guskar? Ide yang bagus juga…
      Tapi kalo Kopi minumanku asli kok, kan punya kebun kopi sendiri hehehe….

    • Saya juga gak suka kopi tanpa air, apa enaknya coba?
      Jujur memang berat, tapi pasti kita bisa melakukannya.
      Ayo semangat tuk selalu jujur pada diri sendiri dan org2 disekitar…

  5. aduduh, maaf saya jadi agak gak sependapat mas. masak minum kopi pahit….🙂
    kalo menurut saya, pada intinya selama kantuk bisa terobati dengan kopi, maka kopi manis masih saya anggap sama seperti kopi2 yg lain.

    tapi kalo untuk filosofinya, saya setuju mas.

    • Mari kita lupakan dulu yang namanya minum-minum kopi, ini kan puasa hehehe…
      Dan mari sejenak kita berfilosofi ria dengan banyak hal disekitar kita, dan kopi salah satunya…

  6. hihi, idenya seru. tapi boleh juga menganalogikan kopi dengan kejujuran. mudah-mudahan mendapatkan hasil yang terbaik ya mas😀

    pengumuman pemenag diundur, mas. informasinya ada di blogfam. tapi ndak akan lama kok. sabar aja.

    • Iya, menurutku juga ide ini seru.
      Tapi gak masuk dlm lomba coz telat, idenya baru dapt setelah lomba ditutup.
      Tapi gpp, yg penting respon postingan ini lumayan bagus🙂

    • Siapa tuh Imanneul kant?
      Kopi adalah masalah selera, tapi kejujuran bukan lagi selera masing-masing, tapi keharusan untuk dilakukan oleh masing-masing individu.
      Tapi masalahnya adalah, banyak org yang memilih kejujuran sebagai selera, selera tuk jujur atau tidak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s