Sotoji Lebih Sehat dan Bergizi Dibanding Mie Instan

Sotoji

Kata itu pertama kali saya baca saat berkunjung di Mailing List Blogger Palembang, Wong Kito. Di milist tersebut rame teman-teman sesama blogger menceritakan kalau kiriman Sotojinya sudah datang. Tak lupa juga memberi sedikit komentar tentang Sotoji.

Jujur saya penasaran. Apa itu Sotoji? Plus ditambah lagi mereka dapat gratisan pula. Rasa penasaran itu akhirnya berubah rasa iri hehehe… Setelah membaca secara seksama dan sejelas-jelasnya, saya pun akhirnya mendapatkan info bagaimana cara mendapatkannya. Dari  Deblogger ini lah akhirnya  Sotoji pun sampai juga di rumah. Saya siap memasaknya lalu menyantapnya. Pasti Yummy….

Gambar

Sotoji untuk saya pun akhirnya datang...

Hal pertama yang saya rasakan saat memulai untuk memasaknya adalah rasa antusias. Ya, rasa antusias terhadap sesuatu yang baru. Karena menurut saya Sotoji adalah varian makanan instan baru. Saya tidak pernah mendengar sebelumnya ada Soto dalam kemasan instan.  Kalau Mie instan rasa Soto mah banyak. Dari merek A sampai Z, semua menawarkan rasa soto. Kenapa soto? Saya yakin karena soto adalah hidangan kuliner khas Indonesia yang bisa kita temui di mana pun. Jadi agar merakyat dan disukai banyak konsumen, akhirnya produsen mie memilih varian rasa yang akrab dengan lidah rakyat. Tentu dengan harapan penjualan yang dapat meningkat. Ups.. kenapa akhirnya saya ngelantur bahas Mie Instan rasa soto ya? *Bingung sendiri* Yang jelas adalah, Sotoji sangat berbeda dengan mie instan rasa soto yang beredar di pasaran.

This is it, Sotoji ala Hajier… :)) Baca lebih lanjut

Iklan

Story Magazine

Huhh…lega rasanya. Akhirnya cerpenku dimuat juga di Majalah Story. Setelah menunggu berbulan-bulan akhirnya cerpen keduaku –cerpen pertama ditolak- diterima dan dimuat juga di Majalah Story edisi 8, yang terbit 25 Februari lalu.

Hmm…mungkin temen-temen Blogger yang kebetulan mampir ke blogku ini, gak ngeh or ora ngerti atau baru denger ada Majalah yang punya nama Story. Ok, akan aku perkenalkan.

Majalah Story itu adalah sebuah majalah remaja atau istilah kerennya Teenlit Magazine. Bedanya dengan majalah-majalah remaja yang lain terletak pada isinya. Disaat majalah-majalah remaja lain banyak berisi tentang gosip-gosip artis, fashion, tips n trik dan konten-konten tentang remaja lainnya, majalah Story berani menawarkan sesuatu yang berbeda. Dimana isi dari majalah itu berisi cerpen-cerpen berkwalitas dari pengarang yang berkwalitas juga *Ya iyalah, namanya juga teenlit magazine*. Karena majalah ini segmennya remaja, tentu tema-tema cerpen yang dimuat di majalah ini juga bertema remaja. Baca lebih lanjut

Calon Presidenku

MegaMega-Prabowo

Suka ngomongin orang *bawaan sebagai satu-satunya capres perempuan kali ya, secara perempuan kan suka bgt yang namanya ngerumpi, ngomongin orang.

SBY

SBY-Budiono

Kaku dan terlalu Jaim

Jk

JK-Wiranto

Over Confidence

Bingung  jadinya mo milih siapa. Semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Siapapun nanti presiden yang terpilih, semoga bisa meLANJUTKAN pemerintahan dengan LEBIH CEPAT DAN LEBIH BAIK dengan berbagai kebijakan yang PRO RAKYAT. MERDEKA!!!!!

Bukan Cinta Biasa

bukan_cinta_biasa_posterNggak ada alasan lain ketika saya memutuskan untuk memilih menonton film ini, film Bukan Cinta Biasa. Kecuali karena hanya pengen nonton film langsung di Bioskop. Ya…secara sudah lama ‘puasa’ nonton film di Bioskop atau kerennya Studio 21. *Maklum, sekarang tinggalnya di kampong hiks hiks hiks….

Film ini dimulai dengan kehadiran seorang cewek ABG bernama Nikita (Olivia Lubis Jensen) di rumah vokalis band Rock Metal, The BOXIS, Tommy (Ferdy ‘Element’). *Sesuai dengan nama bandnya, tampang-tampang personilnya boxis abis tuk bilang kalau mereka para Rocker…, lebih cocok jadi pelawak kayaknya xixixixi…..

Dengan bermodal sebuah foto yang diberikan sang Ibu, Lintang (Wulan Guritno), bahwa lelaki yang ada di foto itu adalah bapaknya. Entah bagaimana ceritanya ‘ujug-ujug’ Nikita sudah ada di depan rumah Tommy, Vokalis Band Boxis sekaligus orang yang ada di foto itu. Dengan bantuan Nikita lah, Tommy akhirnya dipertemukan dengan Lintang. *Saya seh berharap Nikita nggak langusng ke rumah Tommy, nyasar dulu ke kemana. Trus saat Tommy ama Lintang ketemu, biasanya seh ada flashback cerita jadul yang tiba-tiba muncul di tengah adegan dengan layar hitam putih, huhh….sampai akhir cerita, semua mau saya nggak terkabul! Baca lebih lanjut

3Doa 3Cinta

film19881b3

Yang menjadi magnet saat aku memutuskan untuk menonton film ini bukan karena ada Dian Sastrowardoyo atau Nicholas Saputranya. Tapi tentunya karena film ini masuk dalam Official Selection di Pusan International Film Festival di Korea, yang berakhir pada penghargaan terbaik kepada pemeran pendukung pria atas nama Yoga Pratama.

Film menceritakan kehidupan pesantren tradisional di Jawa. Kenapa tradisional? Karena masih memakai kajian kitab kuning dengan pemaknaan bahasa jawa ditambah dengan kondisi pesantren yang sangat-sangat sederhana. Ada yang tradisional berarti ada juga yang modern? Yup, benar sekali! Mungkin bayangan banyak orang selama ini pesantren identik dengan hidup seadanya atau serba kekurangan. Jangan salah, beberapa pesantren sekarang ini malah tak kalah fasilitasnya dengan sekolah2 elite yang ada di Jakarta. Semuanya kembali lagi ke dana, karena dengan itu, kita bisa menentukan hendak ke Pesantren mana kita mau menuntut ilmu.

Film ini  mengingatkan aku saat menimba ilmu di Pesantren di Jawa Timur, sekitar enam tahun lalu. Teringat saat mengaji kitab kuning dengan pemaknaan bahasa jawa, teringat akan tidur beralas tikar, teringat saat bangun subuh, dan banyak hal lain yang ada di film ini yang mengingatkan aku saat aku nyantri di pondok pesantren. Baca lebih lanjut

MBA (MARRIED BY ACCIDENT)

film198411Melihat promosi film ini di tv, yang katanya ada sex educationnya yang cocok untuk remaja, akhirnya aku tertarik untuk mengajak adik kesayangan yang masih duduk di bangku SMA kelas 1 untuk menyaksikannya di bioskop tentunya. Maklum anak daerah, jadi nggak ada bioskop disana, dan sudah jadi rutinitas kalau ada waktu ke Palembang, pasti salah satu agendanya adalah nonton di bioskop. Di antara banyaknya deretan film2 indonesia yang majang di studio 21 itu, hanya film ini lah yang sepertinya layak untuk tontonan adikku. Coz fim2 lainnya mengarah ke komedi yang mengobral sensualitas. Gak pantas sepertinya ditonton oleh adikku, tapi pantas untuk aku hehehe… Ternyata dan ternyata, difilm ini banyak sekali adegan syurnya!!! Huuh…  jadi nyesel!!! Memang sih pemain utamanya nggak aneh2, yang aneh2 malah peran pendukungnya. Berkisah tentang dua orang remaja yang sedang dimabuk asmara. Selama ini gaya pacaran mereka baik-baik saja, masalah malah datang dari lingkungan sekitar. Sang cewek yang bernama Ole  (Nikita Willy) punya ortu yang super sibuk dengan urusan masing2, dan punya kakak yang super2 liar. Sepertinya peran itu terlalu dipaksakan, memang ada ya kakak seperti itu, sudah tahu jelek malah manas2in sang adik, “ml” didepan adeknya lagi. Masak hal2 jelek kayak itu ditularkan pada adiknya. Kakak bejat tuh!!! Baca lebih lanjut

Si Jago Merah

film19671 Inilah film yang aku tonton secara resmi -bukan nonton film dari DVD bajakan, setelah film Laskar Pelangi. Dan ini juga pertama kali juga aku posting tentang  film2 yang baru aku tonton. Apa aku bisa ya membuat sebuah resensi?

Melihat poster film ini, sudah jelas film ini ber-genre komedi. Lihat saja para pemainnya yang sudah identik bermain dengan genre komedi. Lumayan buat hiburan sejenak melihat aksi-aksi kocak dari film ini. Even banyak yang hal2 standar seperti kebanyakan film lainnya. Setidaknya film ini tidak mengikuti arus komedi yang mengarah ke sex.

Ceritanya berawal dari pertemanan empat mahasiswa yang sama2 kesulitan untuk membiaya kuliah karena ada masalah keuangan di keluarga masing2. Ada Gito Prawoto (Desta Club 80’s), Dede Rifai (Ringgo Agus Rahman), Kuncoro Prasetyo (Ytonk Club 80’s) dan Rojak Pangabean (Judika Idol) serta para pemanis lainnya seperti sarah Sechan, Poppy Sovia dan Tika Putri. Kesulitan keuangan itulah yang membuat mereka berusaha untuk bisa mmebiayai biaya kuliah sendiri tanpa harus berhenti kuliah. Segala macam -belum semua, dink!- profesi dilakuin mereka sampai akhirnya mereka berempat jadi petugas pemadam kebakaran. Baca lebih lanjut