Hidup dalam Keterpaksaan

Hidup itu pilihan. Kita semua punya pilihan masing-masing untuk hidup kita. Dan masing-masing dari kita jugalah yang harus mempertanggung jawabkan baik dan buruk atas pilihan itu.

Ini adalah salah satu pilihan hidupku. Pilihan untuk menerbitkan postingan ini. Dan akan bertanggungjawab atas semua isi dari postingan ini. Siap menerima resiko apapaun kalau ada pihak-pihak yang merasa tersinggung dengan postingan ini.*Padahal gak bakalan ada yang tersinggung hehehe….*

Sampai sekarang, aku merasa hidup yang aku jalani bukan atas pilihanku sendiri. Melainkan pilihan Ayah. Pilihan-pilihan Ayah yang harus aku jalani.

Yang paling membekas dalam ingatanku adalah ketika selesai menamatkan SD. Menjadi murid terbaik dan peraih NEM tertinggi, tentu dengan gampang aku bisa melengggang ke SMP Favorit di Kotaku. Tapi…karena Ayah punya pemikiran lain, makanya aku gak jadi sekolah disana, tapi di sekolah lain. Kecewa itu pasti. Tapi mau bagaimana lagi, aku gak punya pilihan lain selain harus menurut pada pilihan Ayah. Baca lebih lanjut

Aku Anak Seorang Nelayan

Kepenatan mengerjakan tuga-tugas kantor selama ini membuat aku meminta izin cuti dari kantor tempatku bekerja. Aku ingin berlibur. Dan liburan kali ini telah menghantarkanku ke tempat ini. Di sebuah kampung nelayan. Aku sebenarnya tidak benar-benar berlibur ke tempat ini. Ada jejak-jejak yang tertinggal di tempat ini puluhan tahun yang lalu. Kini aku kembali untuk mengenang semuanya. Mengenang masa kecilku, mengenang kampung halamanku dan mengenang semua hal yang layak untuk dikenang.

Suasana pagi di kampung-kampung nelayan selalu ramai. Para nelayan mulai merapatkan kapalnya. Membawa hasil tangkapannya yang langsung diserbu oleh para istri dan anak-anak nelayan yang berjibaku  memilah milih hasil tangkapannya untuk segera dijual. Pemandangan yang selalu bisa disaksikan di setiap kampung nelayan.

Dulu aku juga begitu. Sepulang sekolah atau saat sekolah libur, seperti anak-anak nelayan lainnya, sudah pasti aku habiskan waktu untuk membantu Ibu memilih ikan-ikan hasil tangkapan Ayah untuk di jual. Kalau pun pekerjaan itu selesai, saya dan teman-teman yang lain akan mengais ikan-ikan yang tertinggal di perahu-perahu nelayan. Hasilnya lumayan untuk membantu ibu atau untuk uang jajanku di sekolah.

dapet_brapa_ya___BW_by_bengsin

Ayah dan Ibu sudah berulang kali mencegahku untuk ikut bekerja. Mereka lebih senang melihat aku dirumah, istirahat atau bermain dengan teman-teman lainnya. Cukup mereka saja yang bekerja. Mereka tidak tega melihat aku bekerja dan berpanas-panasan di bawah terik matahari. Mereka hanya ingin melihat aku belajar agar menjadi orang sukses di kemudian hari. Baca lebih lanjut