Bukan Cinta Biasa

bukan_cinta_biasa_posterNggak ada alasan lain ketika saya memutuskan untuk memilih menonton film ini, film Bukan Cinta Biasa. Kecuali karena hanya pengen nonton film langsung di Bioskop. Ya…secara sudah lama ‘puasa’ nonton film di Bioskop atau kerennya Studio 21. *Maklum, sekarang tinggalnya di kampong hiks hiks hiks….

Film ini dimulai dengan kehadiran seorang cewek ABG bernama Nikita (Olivia Lubis Jensen) di rumah vokalis band Rock Metal, The BOXIS, Tommy (Ferdy ‘Element’). *Sesuai dengan nama bandnya, tampang-tampang personilnya boxis abis tuk bilang kalau mereka para Rocker…, lebih cocok jadi pelawak kayaknya xixixixi…..

Dengan bermodal sebuah foto yang diberikan sang Ibu, Lintang (Wulan Guritno), bahwa lelaki yang ada di foto itu adalah bapaknya. Entah bagaimana ceritanya ‘ujug-ujug’ Nikita sudah ada di depan rumah Tommy, Vokalis Band Boxis sekaligus orang yang ada di foto itu. Dengan bantuan Nikita lah, Tommy akhirnya dipertemukan dengan Lintang. *Saya seh berharap Nikita nggak langusng ke rumah Tommy, nyasar dulu ke kemana. Trus saat Tommy ama Lintang ketemu, biasanya seh ada flashback cerita jadul yang tiba-tiba muncul di tengah adegan dengan layar hitam putih, huhh….sampai akhir cerita, semua mau saya nggak terkabul! Baca lebih lanjut

Iklan

3Doa 3Cinta

film19881b3

Yang menjadi magnet saat aku memutuskan untuk menonton film ini bukan karena ada Dian Sastrowardoyo atau Nicholas Saputranya. Tapi tentunya karena film ini masuk dalam Official Selection di Pusan International Film Festival di Korea, yang berakhir pada penghargaan terbaik kepada pemeran pendukung pria atas nama Yoga Pratama.

Film menceritakan kehidupan pesantren tradisional di Jawa. Kenapa tradisional? Karena masih memakai kajian kitab kuning dengan pemaknaan bahasa jawa ditambah dengan kondisi pesantren yang sangat-sangat sederhana. Ada yang tradisional berarti ada juga yang modern? Yup, benar sekali! Mungkin bayangan banyak orang selama ini pesantren identik dengan hidup seadanya atau serba kekurangan. Jangan salah, beberapa pesantren sekarang ini malah tak kalah fasilitasnya dengan sekolah2 elite yang ada di Jakarta. Semuanya kembali lagi ke dana, karena dengan itu, kita bisa menentukan hendak ke Pesantren mana kita mau menuntut ilmu.

Film ini  mengingatkan aku saat menimba ilmu di Pesantren di Jawa Timur, sekitar enam tahun lalu. Teringat saat mengaji kitab kuning dengan pemaknaan bahasa jawa, teringat akan tidur beralas tikar, teringat saat bangun subuh, dan banyak hal lain yang ada di film ini yang mengingatkan aku saat aku nyantri di pondok pesantren. Baca lebih lanjut