Pecah Telok di Wong Kito

Aku selalu merasa iri melihat teman-teman Blogger bisa kopdar dan bikin acara dengan Komunitas Blogger daerahnya. Aku juga kepengen seperti mereka, tapi… aku gak tahu ada gak Komunitas Blogger di daerahku. Ternyata eh ternyata, sebuah tayangan berita tv lokal menginformasikan kalau di Palembang ada komunitas Blogger, namanya Komunitas Blogger Wong Kito.

Informasi itu tidak hanya membuat aku tahu, tapi juga membangkitkan kembali semangatku yang pernah hilang untuk kembali nge-blog. Dan akhirnya aku kembali ngeblog. Informasi tentang Komunitas Wong Kito itu sebenarnya sudah aku tahu sekitar setahun yang lalu, tapi berhubung aku belum pede memperkenalkan blogku yang masih seumur jagung, makanya keinginan tuk join selalu tertunda. Dan baru beberapa hari ini aku mulai mem-pede-pede-kan diri lalu berjuang untuk join ke Komunitas Wong Kito.

Untuk  menjadi anggota komunitas Wong Kito, para calon anggota harus join terlebih dulu di mailing list Wong Kito. Lalu melakukan sebuah ritual yang namanya Pecah Telok. Pecah a.k.a Pecah, Telok a.k.a Telur. Jadi kita harus bisa memecahkan telur. Tapi telurnya tentu bukan telur yang sebenarnya, hanya istilah saja. Dan peraturan pecah telok ada di bawah ini: Baca lebih lanjut

Iklan

CobaanMu, Tuhan!

Bulan Juli ini saya cuma bisa berharap bisa menjadi bulan yang lebih baik dari pada bulan sebelumnya, bulan Juni. Secara pada bulan Juni yang lalu ada peristiwa-peristiwa yang membuat saya harus ikhlas, menerima cobaan yang Tuhan berikan pada keluarga saya.

Pertama, motor yang dipake adek saya kuliah dan motor yang selalu menemani perjalanan saya kesana-kemari saat berada di Palembang, tiba-tiba raib di ambil orang di depan rumah tante saya di Palembang.

Kedua, Nggak lama setelah motor hilang, eh giliran Handphone yang hilang saat perjalanan dalam bis kota dari Banyuasin ke Palembang. Entah handphonenya jatuh atau di copet orang gak tahu pastinya. Yang jelas begitu sampe di Palembang handphonenya sudah raib.

Jarak waktu antara kejadian yang satu dengan yang lainnya cuma beberapa hari dan semua terjadi di bulan Juni. Pelakunya seh bukan saya, pelaku yang menghilangkan saat kejadian itu adik-adik saya. Makanya saya berharap bulan ini akan menjadi bulan yang lebih baik dari bulan Juni kemaren.

Pasti kesel lah punya barang yang biasanya  ada menemani hari-hari kita lalu tiba-tiba hilang. Huhhh… Tapi mau gimana lagi, namanya musibah, hanya ikhlas menerima semua itu. Mau disesali juga barang itu nggak bakalan balik lagi.

Berharap dan berharap lagi semoga ada rezeki lebih buat keluarga saya untuk bisa mengganti barang -barang yang hilang itu. Dan buat yang mengambil, semoga barangnya bisa digunakan dengan sebaik-baiknya.

Saya bangga sebagai orang Indonesia yang selalu bersyukur atas segala musibah yang telah terjadi. Untung cuma motor sama handphone-nya yang hilang, bukan adek-adek saya yang hilang.

Adik-adik saya kan lebih berharga daripada motor dan handphone itu….