#WongNdeso Masuk Hotel

Pertama kali masuk hotel berbintang itu pas kuliah. Kalo gak salah namanya Hotel Grand Mercure yang sekarang sudah ganti namanya menjadi Hotel The Phoenix Yogyakarta. Kok bisa nyampe sana? Semua juga karena kebetulan dan keberuntungan saya saja saat itu. Ya, beruntung masuk sana karena saya memenangkan Free Ticket Seminar Motivasi dari sebuah Radio di Yogyakarta. Harga tiket seminar saat itu kalo gak salah Rp. 200.000,- Angka yang sangat berarti bagi saya sebagai anak kost di tahun 2000-an. *Sekarang juga berarti kok duit segitu*

Kenapa moment masuk hotel itu berkesan bagi saya, ya karena masuk hotel adalah sesuatu yang langka bagi saya. Secara saya tinggal di kota kecil yang hanya punya hotel-hotelan yang biasa disebut penginapan biasa, dan saya juga dari keluarga sederhana yang gak mungkin menyiapkan budjet untuk menginap di hotel berbintang. Lebih baik duitnya digunakan untuk hal yang lainnya.

Sebagai orang kampung atau bisa dibilang kebanyakan orang saat masuk ke tempat yang baru pertama kali akan di datanginya pasti ada perasaan gugup, kikuk dan teman-teman lainnya. Apalagi saat itu saya gak punya teman untuk kesana. Secara emang gak ada teman yang mau ikut seminar itu dan secara pula saya dapat gratisan. Jadi terpaksa saya berangkat sendiri. Pepatah bilang, malu bertanya sesat di jalan, jadi biar gak sesat akhirnya saya bertanya ke pihak hotel dimana acara diselenggarakan. Karena tidak malu bertanya, akhirnya saya tidak tersesat dan bisa dengan selamat ke tempat acara. Di sebuah Ballroom Hotel Berbintang!!!

Belum masuk saja sudah grogi. Ya, secara peserta yang hadir disana pakaiannya keren-keren semua. Eksekutif Muda lah istilahnya. Nah sementara saya? Jujur minder sangat saya saat itu. Tapi hanya sesaat kok, karena setelah itu saya pun berkenalan dengan salah satu dari mereka. Dari satu orang, saya pun berkenalan dengan satu orang lainnya lagi, lainnya lagi dan akhirnya berkenalan dengan banyak orang. Dan mereka juga bisa menerima saya yang hanya sebagai seorang mahasiswa saja. Hanya pikiran jelek saya sajalah yang mikir kalau mereka bakal menganggap remeh saya sebagai mahasiswa. Ya… secara mereka sudah menjadi orang sukses dan saya masih akan berjuang untuk sukses. Hehehehe… Dan setelah berkenalan dengan banyak orang, akhirnya saya juga menemukan teman yang senasib dengan saya, mahasiswa pula. Tapi tetep mindernya masih ada, secara sekilas tampaknya si teman mahasiswa itu sepertinya sudah sering keluar masuk hotel. Kelihatan dari gerak geriknya, nyantai banget. Sementara saya…. tetep kikuk… Baca lebih lanjut

Internet; Pahlawan Kami

Saya mengenal Internet sejak SMU, sekitar tahun 2000-an. Dikarenakan saat itu Internet adalah sesuatu yang masih langka dan wah bagi saya, jadi saya mengaksesnya cuma seminggu sekali. Itu pun diajak teman. Kita patungan karena saat itu biaya akses Internet masih mahal, sekitar Rp. 5000/Jam. Bagi saya yang masih SMU dan tinggal nge-kost jauh dari orang tua, uang Rp. 5000 di saat itu lumayan berarti. Apalagi hanya untuk aktivitas chating atau browsing hal-hal yang memang hanya sebatas untuk hiburan.Chating hanya tuk cari kenalan cewek baru dan browsing tuk melihat foto atau video-video porno. Sangat mubazir kan? Hehehe….

Dapat mengakses Internet secara luas baru saya rasakan saat kuliah di Yogyakarta. Ya, di kota pelajar itu namanya warnet menjamur dimana-mana. Selain harganya murah, warnet di Yogyakarta kebanyakan buka 24 jam. Dari sanalah mulai saya bisa merasakan arti pentingnya Internet. Salah satunya yang untuk mencari tugas-tugas kuliah. Ternyata banyak sekali keuntungan yang bisa didapat kalau kita bisa memanfaatkan Internet secara baik dan bijak. Selain bisa mencari bahan-bahan untuk tugas kuliah, kita juga bisa update informasi terkini yang mungkin tv dan surat kabar belum mengetahui, bisa melepas kangen dengan keluarga yang jauh disana dengan fasilitas chating n webcam dan tentu banyak lagi. Bisa punya koleksi video bokep juga gara-gara kenal internet hehehe… Untuk yang terakhir apa juga bisa dikatakan salah satu manfaat penggunaan internet??? 😛

Mungkin manfaat-manfaat penggunaan Internet yang saya sebutkan diatas juga dirasakan oleh banyak orang. Saya yakin semua merasakannya. Kita menjadi lebih up-date terhadap perkembangan yang ada dibelahan dunia manapun. Hubungan kita dengan keluarga, saudara atau teman-teman yang jauh pun bisa terasa menjadi dekat.

Akan tetapi manfaat terbesar  yang saya rasakan saat memanfaatkan akses Internet sebagai tekologi Informasi terjadi pada saat Lebaran Idul Fitri tahun 2011 kemarin. Apalagi saat itu saya berada di Pagar Alam, sebuah kota kecil di Sumatera Selatan yang bisa ditempuh perjalanan darat selama 7 jam dari Palembang. Saat itu saya merasa bak seorang Pahlawan di kampung sendiri.

Kita semua tahu bahwa menjelang datang Idul Fitri 1432 H/2011 M sudah terdengar bahwa akan ada perbedaan waktu dalam menentukan datangnya hari Raya Idul Fitri. Sebagian masyarakat muslim Indonesia sudah yakin akan merayakan terlebih dahulu, yaitu tanggal 30 Agustus 2011. Sementara muslim Indonesia yang lain menunggu keputusan dari Menteri Agama melalui sidang Isbat yang selalu dilakukan saat menjelang datangnya hari raya.

Hari ke 29 Ramadhan adalah hari yang mendebarkan bagi semua muslim di Indonesia. Ya, karena malam itu akan diputuskan kapan hari raya Idul Fitri tiba. Saya dan orang-orang kampung yang berpijak pada pemerintah akhirnya hanya bisa menunggu keputusan apa yang akan diambil pemerintah nanti. Apakah besok lebaran atau lusa? Selesai sholat Magrib semua masyarakat di kampong sudah berada di depan televisi masing-masing menanti keputusan Menteri Agama. Lalu tiba-tiba…. byar pet. Listrik padam! Tidak hanya itu,ternyata ada musibah kebakaran di kota kecilku. Tentu saja listrik di seluruh kotaku langsung mati. Sepertinya listrik mati akan lama karena api yang membakar rumah penduduk semakin besar dan merambat ke beberapa rumah di sekitarnya. Melihat kebakaran itu sejenak semua orang lupa apakah akan berlebaran besok atau lusa. Tapi tetap dalam benak masing-masing kami pasti bertanya-tanya, jadi gak lebaran besok?

Api sudah reda, semua pulang ke rumah tapi  listrik belum juga hidup. Jadinya ya kami hanya bisa menduga-duga apakah besok jadi lebaran atau gak?

Sebenarnya saya sudah mendapatkan informasi lebaran dari sms teman yang berada diluar kota. Tapi untuk menginformasikanya ke Pengurus Masjid ya kok kurang pantas ya. Kurang valid. Untungnya aku ingat dengan Internet. Bukankah banyak informasi yang di penjuru dunia bisa di akses dengan mudah dan cepat dengan Internet. Akhirnya bermodal sisa batere laptop dan modem XL, aku bisa membuka portal berita online. Dan jelas dari beberapa portal berita online yang saya buka semua ditambah dengan membuka situs resmi Kementerian Agama RI akhirnya keputusannya bahwa lebaran jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011. Dengan internet kita bisa XLangkah Lebih Maju tahu terhadap informasi yang sedang berkembang.

Para pengurus Masjid sangat berterima kasih padaku atas informasi yang aku sampaikan beserta barang bukti yang saya bawa ke masjid. Meskipun laptop hanya bertahan selama 10 menit, tapi informasi yang bisa diperoleh dapat memberikan informasi penting bagi kemaslahan orang banyak. Saat itu kok saya merasa bak pahlawan yang mampu membebaskan banyak orang dari informasi yang kurang jelas menjadi informasi yang jelas. Padahal itu jelas-jelas bukan karena saya, itu semua karena Internet. Jadi yang jadi pahlawan bukan saya, tapi Internet.

Setelah informasi itu didapatkan, kami pun langsung melaksanakan sholat Terawih berjamaah di Masjid dengan hanya bercahaya lampu petromak.

Internet, kamu pahlawanku. Karena kamu, akhirnya kami tidak terlalu lama menunggu dalam ketidakjelasan.

Hidup dalam Keterpaksaan

Hidup itu pilihan. Kita semua punya pilihan masing-masing untuk hidup kita. Dan masing-masing dari kita jugalah yang harus mempertanggung jawabkan baik dan buruk atas pilihan itu.

Ini adalah salah satu pilihan hidupku. Pilihan untuk menerbitkan postingan ini. Dan akan bertanggungjawab atas semua isi dari postingan ini. Siap menerima resiko apapaun kalau ada pihak-pihak yang merasa tersinggung dengan postingan ini.*Padahal gak bakalan ada yang tersinggung hehehe….*

Sampai sekarang, aku merasa hidup yang aku jalani bukan atas pilihanku sendiri. Melainkan pilihan Ayah. Pilihan-pilihan Ayah yang harus aku jalani.

Yang paling membekas dalam ingatanku adalah ketika selesai menamatkan SD. Menjadi murid terbaik dan peraih NEM tertinggi, tentu dengan gampang aku bisa melengggang ke SMP Favorit di Kotaku. Tapi…karena Ayah punya pemikiran lain, makanya aku gak jadi sekolah disana, tapi di sekolah lain. Kecewa itu pasti. Tapi mau bagaimana lagi, aku gak punya pilihan lain selain harus menurut pada pilihan Ayah. Baca lebih lanjut

Sholat Jum’at Bersama Ayah

Setiap saya melaksanakan Sholat Jum’at dan dimanapun Masjidnya, pasti selalu saya mendapati seorang Ayah yang mengajak anak kecil lelakinya untuk sholat bersamanya. Saya suka sekali melihat pemandangan seperti itu. Dalam hati kecil saya pun berjanji, kelak jika saya menjadi seorang Ayah dari seorang anak lelaki, saya juga akan mengajaknya untuk sholat Jum’at bersama ke Masjid.

Apa anak itu paham dengan sholat Jum’at? Tentu mereka belum paham dengan apa itu sholat Jum’at. Yang terjadi malah kegaduhan atau kerusuhan bila seorang anak kecil sholat Jum’at di Masjid. Biasanya ada yang ngompol, menangis, tidur atau juga lari sana sini yang secara otomatis mengganggu Jama’ah yang sedang mendengar Khutbah atau menganggu Jama’ah yang sedang sholat. Terlepas dari semua itu, tentu ajakan sang Ayah sangat baik. Sejak dini telah mengajarkan anak lelakinya untuk mendekatkan diri pada Tuhan, mengajaknya untuk selalu dekat dengan rumah Tuhan.

250px-shalatanakkecil Baca lebih lanjut

Puasaku yang Kacau

Ramadhan sebentar lagi tiba. Pastinya umat Muslim di penjuru dunia menyambutnya dengan suka cita. Termasuk saya. Selain mengharap berkah dan pahala, saya juga berharap perut saya yang buncit ini bisa sedikit mengempis *teutep usaha* karena waktu makan saya terbatas. Sambil menyelam minum air, begitulah kiasan yang tepat untuk saya hehehe….

Hmmm…. Jadi teringat masa kecil saya dulu. Saya dan teman-teman kecil saya selalu gembira menyambut bulan puasa. Ini dikarenakan waktu bermain saya dengan teman-teman lebih banyak. Maksudnya? Kalau gak puasa kan waktu mainnya cuma siang setelah pulang sekolah sampai sore. Malam kudu di rumah buat belajar. Sementara kalau bulan puasa, saya bisa main sama-teman-teman dari pagi selesai sholat subuh. Habis sholat shubuh biasanya langsung jalan-jalan. Malamnya, dengan dalih untuk sholat Tarawih, selepas berbuka dan sholat Maghrib, bisa langsung keluar rumah juga. Pokoknya menyenangkan. Selain karena ada hadiah baju lebaran dari ortu kalau puasanya sukses selama satu bulan penuh, juga karena ada persaingan sehat dengan teman-teman yang berlomba-lomba untuk tidak membatalkan puasa. Malu rasanya kalau ada puasa yang batal. Soalnya diujung bulan akan ada perhitungan berapa kali batal puasanya. Kalau ketahuan banyak puasanya yang batal, langsung deh dapat ejekan dari teman-teman yang puasanya sukses satu bulan penuh. Alhamdulillah, saat kecil dulu puasanya sudah bisa full satu bulan. Baca lebih lanjut

I Miss U, Jogjaa

tugu-yogya

Habis nonton Film gak penting yang punya setting lokasi di Jogja, jadi keingetan sama kenangan-kenangan saya dulu waktu tinggal di kota itu. Sudah 3 tahun sudah saya pergi dari Jogja, dan selama itu pula saya belum sekalipun punya kesempatan unuk kembali kesana. Menapaki kembali jejak-jejak yang selama 5tahun saya tinggalkan disana. I miss u, Jogjaaa…………………..

Jogja, kota yang punya banyak julukan ini menawarkan banyak hal yang unik dan berbeda yang nggak saya temukan di kota lain. Karena keunikannya, hanya dengan kembali ke Jogja yang bisa mengobati semua kerinduan yang terpendam. Tapi sayang, saya belum punya kesempatan lagi kembali kesana. Hanya dengan mengenang lewat imaji, sedikit mengobati kerinduan yang ada. I miss u, Jogjaaa……….. Baca lebih lanjut

Masangin @ Jogja

Tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata para wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Setelah mampir ke Malioboro, Alun-Alun Selatan dan mengunjungi Keraton, tidak lengkap kalau tidak sekalian mampir ke Alun-Alun utara. Tak hanya mampir, tak juga hanya melihat, tapi juga sekalian mencoba kesaktian pohon beringin yang tidak biasa ini yg biasa dikenal dengan istilah Masangin.

Sewaktu masih kuliah di Yogyakarta, selama 5 tahun saya hanya menyaksikan pohon beringin itu tanpa mau mencobanya. Sebenarnya ada keinginan saya untuk mencobanya dan untuk membuktikan apa yang selama ini orang-orang bilang tentang pohon beringin benar. Akan tetapi, saya ini orang yang nggak suka atau takut lebih tepatnya dengan hal-hal yang berbau supranatural. Jadi keinginan itu hanya bisa dipendam saja. Selama itu juga biasanya saya hanya memutari alun-alun itu dengan sepeda motor atau sekedar nongkrong dan ngobrol bareng teman-teman sambil menikmati wedang ronde (minuman yang aneh bagiku, red) di malam hari.

Sampai pada akhirnya, bulan-bulan terakhir di Yogyakarta, saya berkesempatan untuk mencobanya. Semua ini bermula saat ada kasus pencurian dua buah hp di kost. Karena tidak tahu sipa pelakunya, salah satu teman menyarankan untuk menanyakan pelakunya kepada ‘orang pintar’. Orang pintar itu ternyata adalah pawang (penjaga, red) dari pohon beringin itu. Sekitar pukul satu pagi kami tiba disana. Masih saya temui banyak orang yang mencoba-coba keajaiban pohon beringin itu. Satu persatu akhirnya mereka pulang dan saatnya saya dan teman-teman menemui pawang tersebut. Mengutarakan masalah dan selanjutnya satu persatu kami mencoba melintasi kedua pohon beringin tersebut. Baca lebih lanjut