Dendam Seorang Bayi

Aku benar-benar ketakutan. Dengan napas terengah-engah akhirnya aku masuk ke dalam kamarku. Kurebahkan diriku di tempat tidur untuk menenangkan diri.

Suara tangisan bayi terdengar di telingaku. Aku buka mata dan kudapati seorang bayi dengan tubuh penuh luka dan darah menatapku tajam. Lalu bangkit menghampiriku sembari menunjukkan sepasang gigi taring yang siap menerkamku. Aku mundur dan mencoba berlari. Tapi tak bisa. Ada beban berat yang menahanku. Bayi itu mendekat lalu menerkamku. Aku melawannya. Tapi ternyata tenaga bayi itu luarbiasa. Aku menyerah. Aku hanya bisa menangis saat tubuhku dicabik-cabik oleh gigi taringnya. Aku benar-benar menyesal. Mungkin ini balasan yang harus kuterima karena sore tadi mobilku menabrak seorang Ibu hamil dan meninggalkanya begitu saja di jalanan.

“Bangun Ndre, kamu kenapa tidur sambil menangis?” tanya Ibu membangunkanku.

 

Iklan

Sudut di Sebuah Coffee Shop -Part II-

Pulang kuliah aku dan Deni mampir ke Gramedia, mencari buku referensi untuk tugas kuliah. Pengunjung Gramedia sore itu ramai sekali, membuatku kurang nyaman untuk membaca buku lebih lama disana. Setelah mendapatkan bukunya, aku langsung bergegas menuju kasir untuk membayarnya.

“Siang…,” suara seorang cewek menghentikan langkahku.“…kamu yang nabrak aku kemarin kan?” tanya cewek itu.

Aku amati wajah yang kini ada dihadapanku. Wajah itu…, wajah yang dulu pernah ada dalam hatiku, wajah yang selalu aku rindukan, wajah yang dulu hilang saat aku mengejarnya, sekaligus wajah yang pernah membuat aku terluka. Kenapa kini datang saat aku sudah melupakan semuanya? “Oh ya?” jawabku dingin.

“Mungkin kamu sudah lupa, sudahlah kalau begitu. Maaf menganggu,” ujar cewek itu dan langsung berlalu meninggalkanku. Sepertinya dia sedikit malu karena aku tidak mengenalnya. Dari kejauhan aku masih melihat dia sedang asyik membaca sebuah buku. Ternyata dia tidak langsung pulang, atau kemungkinan dia baru datang dan begitu melihatku dia langsung menyapaku. Ada pertentangan batin dalam diriku, antara menemuinya kembali atau benar-benar melupakannya. Jika dia memang dihadirkan Tuhan untukku, inilah saat yang tepat untuk menemuinya dan lebih mengenalnya. Mungkin Tuhan masih memberikan kesempatan ke empat untukku. Aku menunda membayar buku di kasir lalu menemuinya. Langkah demi langkah terasa begitu berat untuk mendekatinya. Aku grogi atau aku ragu untuk mengenalnya? Entahlah… Baca lebih lanjut

Sudut Di Sebuah Coffee Shop

Keinginan untuk bisa menikmati Capucino telah menghantarkanku di sebuah Coffee Shop yang baru buka disebuah Mall. Tak ada yang spesial saat aku melihat Coffee Shop tersebut, tata ruang dan suasananya tak beda dengan Coffee Shop lain yang bertebaran di Jakarta. Capucino minuman kegemaranku pun tak kudapati rasa yang beda dengan Capucino yang aku minum di tempat lain. Tak apalah, toh masih harga promosi, setidaknya aku tidak merasa rugi harus menjatuhkan pilihanku kesini.

Dari sudut tempatku duduk di Coffee Shop ini, aku bisa melihat lalu lalang pengunjung Mall. Tak jarang aku mendapati orang-orang yang aku kenal jalan bersama keluarga, pacar, atau mungkin… selingkuhan! Tak terasa sudah dua jam waktu aku habiskan disini. Biasanya kalau lagi sendiri di Coffee Shop, aku akan langsung setelah minuman atau makanan yang aku pesan tandas. Tapi… entah kenapa aku merasa begitu nyaman duduk di tempat ini. Saat aku putuskan untuk pulang, ada sebuah kerinduan untuk bisa kembali lagi ke tempat ini. Baca lebih lanjut

Story Magazine

Huhh…lega rasanya. Akhirnya cerpenku dimuat juga di Majalah Story. Setelah menunggu berbulan-bulan akhirnya cerpen keduaku –cerpen pertama ditolak- diterima dan dimuat juga di Majalah Story edisi 8, yang terbit 25 Februari lalu.

Hmm…mungkin temen-temen Blogger yang kebetulan mampir ke blogku ini, gak ngeh or ora ngerti atau baru denger ada Majalah yang punya nama Story. Ok, akan aku perkenalkan.

Majalah Story itu adalah sebuah majalah remaja atau istilah kerennya Teenlit Magazine. Bedanya dengan majalah-majalah remaja yang lain terletak pada isinya. Disaat majalah-majalah remaja lain banyak berisi tentang gosip-gosip artis, fashion, tips n trik dan konten-konten tentang remaja lainnya, majalah Story berani menawarkan sesuatu yang berbeda. Dimana isi dari majalah itu berisi cerpen-cerpen berkwalitas dari pengarang yang berkwalitas juga *Ya iyalah, namanya juga teenlit magazine*. Karena majalah ini segmennya remaja, tentu tema-tema cerpen yang dimuat di majalah ini juga bertema remaja. Baca lebih lanjut

Tak Bisa Memilihmu

Langkah ini begitu berat saat aku harus melangkah pulang menuju apartemenku. Bukan apartemenku yang aku takuti, tapi Andre. Sosok lelaki yang selama 5 tahun ini menemaniku tiba-tiba menjadi sosok yang paling menakutkan di dunia. Aku takut Andre tahu apa yang terjadi dan lalu pergi meninggalkan aku seorang diri. Aku begitu mencintainya dan tak ingin kehilangan dia.

Perlahan aku membuka pintu apartemenku dan seketika itu juga sebuah wajah tampan ada didepanku. Tersenyum padaku. Oh Andre, bisikku dalam hati, wajahmu begitu tampan. Setampan kasih sayangmu selama ini padaku. Itu alasan kenapa selama ini aku bahagia selalu bersamamu dan tidak mau kehilanganmu. Tapi, setelah apa yang aku perbuat, apa aku pantas untuk tetap bersamamu? Baca lebih lanjut

Aku Anak Seorang Nelayan

Kepenatan mengerjakan tuga-tugas kantor selama ini membuat aku meminta izin cuti dari kantor tempatku bekerja. Aku ingin berlibur. Dan liburan kali ini telah menghantarkanku ke tempat ini. Di sebuah kampung nelayan. Aku sebenarnya tidak benar-benar berlibur ke tempat ini. Ada jejak-jejak yang tertinggal di tempat ini puluhan tahun yang lalu. Kini aku kembali untuk mengenang semuanya. Mengenang masa kecilku, mengenang kampung halamanku dan mengenang semua hal yang layak untuk dikenang.

Suasana pagi di kampung-kampung nelayan selalu ramai. Para nelayan mulai merapatkan kapalnya. Membawa hasil tangkapannya yang langsung diserbu oleh para istri dan anak-anak nelayan yang berjibaku  memilah milih hasil tangkapannya untuk segera dijual. Pemandangan yang selalu bisa disaksikan di setiap kampung nelayan.

Dulu aku juga begitu. Sepulang sekolah atau saat sekolah libur, seperti anak-anak nelayan lainnya, sudah pasti aku habiskan waktu untuk membantu Ibu memilih ikan-ikan hasil tangkapan Ayah untuk di jual. Kalau pun pekerjaan itu selesai, saya dan teman-teman yang lain akan mengais ikan-ikan yang tertinggal di perahu-perahu nelayan. Hasilnya lumayan untuk membantu ibu atau untuk uang jajanku di sekolah.

dapet_brapa_ya___BW_by_bengsin

Ayah dan Ibu sudah berulang kali mencegahku untuk ikut bekerja. Mereka lebih senang melihat aku dirumah, istirahat atau bermain dengan teman-teman lainnya. Cukup mereka saja yang bekerja. Mereka tidak tega melihat aku bekerja dan berpanas-panasan di bawah terik matahari. Mereka hanya ingin melihat aku belajar agar menjadi orang sukses di kemudian hari. Baca lebih lanjut

Aku Seorang Nelayan

Hidup kata kebanyakan orang adalah sebuah pilihan. Setiap orang berhak memilih arah hidupnya masing-masing. Aku juga punya pilihan. Dari kecil aku sudah ditemani pantai, lautan, perahu dan ikan-ikan. Tak salah kemudian pilihan hidupku sekarang ini menjadi seorang nelayan. Hanya pekerjaan itu yang aku bisa lakukan. Aku bahagia. Bukankah pekerjaan yang dilakukan dengan hati yang bahagia mambuat segala pekerjaan menjadi mudah.

Pekerjaan sebagai nelayan mungkin menurut sebagian orang cukup melelahkan. Sangat melelahkan memang bagi sebagian orang yang baru tahu. Bagi aku yang berasal dari keluarga nelayan, yang sedari kecil terbiasa dengan semua itu, tentu bukanlah pekerjaan yang melelahkan. Aku percaya bahwa inilah jalan Tuhan yang diberikan padaku. Aku selalu bersyukur dengan semua itu. Aku yakin nelayan pun punya peranan penting dalam kehidupan. Kalau tidak ada nelayan, bagaimana bisa kita semua bisa menikmati lezatnya ikan dan makanan-makanan laut lainnya.

fisherman_by_bengsin

Baca lebih lanjut