I Miss U, Jogjaa

tugu-yogya

Habis nonton Film gak penting yang punya setting lokasi di Jogja, jadi keingetan sama kenangan-kenangan saya dulu waktu tinggal di kota itu. Sudah 3 tahun sudah saya pergi dari Jogja, dan selama itu pula saya belum sekalipun punya kesempatan unuk kembali kesana. Menapaki kembali jejak-jejak yang selama 5tahun saya tinggalkan disana. I miss u, Jogjaaa…………………..

Jogja, kota yang punya banyak julukan ini menawarkan banyak hal yang unik dan berbeda yang nggak saya temukan di kota lain. Karena keunikannya, hanya dengan kembali ke Jogja yang bisa mengobati semua kerinduan yang terpendam. Tapi sayang, saya belum punya kesempatan lagi kembali kesana. Hanya dengan mengenang lewat imaji, sedikit mengobati kerinduan yang ada. I miss u, Jogjaaa……….. Baca lebih lanjut

Iklan

Masangin @ Jogja

Tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata para wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Setelah mampir ke Malioboro, Alun-Alun Selatan dan mengunjungi Keraton, tidak lengkap kalau tidak sekalian mampir ke Alun-Alun utara. Tak hanya mampir, tak juga hanya melihat, tapi juga sekalian mencoba kesaktian pohon beringin yang tidak biasa ini yg biasa dikenal dengan istilah Masangin.

Sewaktu masih kuliah di Yogyakarta, selama 5 tahun saya hanya menyaksikan pohon beringin itu tanpa mau mencobanya. Sebenarnya ada keinginan saya untuk mencobanya dan untuk membuktikan apa yang selama ini orang-orang bilang tentang pohon beringin benar. Akan tetapi, saya ini orang yang nggak suka atau takut lebih tepatnya dengan hal-hal yang berbau supranatural. Jadi keinginan itu hanya bisa dipendam saja. Selama itu juga biasanya saya hanya memutari alun-alun itu dengan sepeda motor atau sekedar nongkrong dan ngobrol bareng teman-teman sambil menikmati wedang ronde (minuman yang aneh bagiku, red) di malam hari.

Sampai pada akhirnya, bulan-bulan terakhir di Yogyakarta, saya berkesempatan untuk mencobanya. Semua ini bermula saat ada kasus pencurian dua buah hp di kost. Karena tidak tahu sipa pelakunya, salah satu teman menyarankan untuk menanyakan pelakunya kepada ‘orang pintar’. Orang pintar itu ternyata adalah pawang (penjaga, red) dari pohon beringin itu. Sekitar pukul satu pagi kami tiba disana. Masih saya temui banyak orang yang mencoba-coba keajaiban pohon beringin itu. Satu persatu akhirnya mereka pulang dan saatnya saya dan teman-teman menemui pawang tersebut. Mengutarakan masalah dan selanjutnya satu persatu kami mencoba melintasi kedua pohon beringin tersebut. Baca lebih lanjut