Kebebasan yang (Tak) Bertanggungjawab

Beberapa hari belakangan ini aku sering sekali ribut sama nyokap di rumah. Biasalah ribut antara seorang anak dan nyokapnya. Masalahanya bukan masalah yang besar sehingga membuat hubungan Ibu dan anak jadi berantakan. Bukan. Saya masih mau jadi seorang anak yang berbakti sama orangtua dengan tidak menyakiti atau melawan mereka. Masalahnya hanya hal sepele; nyokap sebel ngelihat tingkahku selama ini. Nyokap sebel ngelihat kamarku yang selalu berantakan; nyokapsebel ngelihat tingkahku yang sering menaruh barang sembarangan, waktunya butuh baru sibuk mencari-cari; nyokap sebel ngelihat sikap pelupaku; nyokap sebel ngelihat kebiasaan makan dan tidurku –nyokap pengennya ngelihat aku diet dan sering olahraga; nyokap sebel, sebel dan sebel melihat kelakuanku yang menurutnya gak banget itu. Huh!!!

Apa yang dikeluhkan nyokap ke aku seratus bahkan seribu persen adalah benar. Kebiasaan-kebiasaan yang telah aku lakukan selama ini  memang nggak baik. Nyokap mengajarkanku tuk hidup rapi, hidup yang disiplin dan hidup yang sehat. Semua yang nyokap keluhkan padaku sebenarnya buat kebaikanku juga.

Yang kemudian menjadi masalah dan membuat ribut antara aku dan nyokap adalah…jawabanku yang selalu iya, iya dan iya tanpa pernah melakukan apa yang telah aku ‘iyakan’ ke nyokap. Jadinya ya nyokap ngomel-ngomel mulu dan aku jadinya sebel kena omelan mulu.

Hmmm….sebenarnya aku sudah menduga bakal kejadian seperti ini. Yang aku takutkan saat memilih bekerja di tempat tinggalku adalah aku harus tinggal bareng ortu. Konsekuensinya adalah aku harus siap dengan aturan-aturan yang berlaku di rumah. Maklum saja, sejak tamat SMP hingga satu tahun belakangan aku merantau jauh dari orang tua. Biasa hidup sendiri. Sehingga hidup yang aku jalani  selama itu ya dengan aturan-aturan yang aku terapin sendiri. Kalau mau rajin, ya rajin. Kalau mau disiplin, ya disiplin. Mau hidup sehat, ya hidup sehat. Semua akan aku lakukan kalau aku mau, kalau tidak, tentu tidak aku lakukan. Setidaknya apa yang aku lakukan berdasarkan kemauan sendiri tanpa ada yang memerintah atau memaksa ini atau itu. Tidak harus terikat dengan peraturan ini dan itu.

Mungkin karena dulu saat masih tinggal sama ortu aku masih kecil, belum pernah pisah dari mereka, makanya aku merasa fine-fine saja tinggal bersama mereka dan juga menaati aturan-aturan yang ada di rumah. Tapi…setelah aku pernah merasakan merantau, ngekost sendiri, jadinya aku tahu betapa nikmatnya hidup bebas tanpa aturan-aturan yang mengekang. Aku punya kebebasan tuk diriku sendiri tanpa adanya aturan-aturan yang mengekangku tuk mengekspresikan segala keinginan-keinginanku. Dan sekarang aku harus kembali terikat dengan aturan-aturan yang buat oleh ortu. Berhubung aku masih tinggal bersama mereka, mau tak mau akupun ‘terpaksa’ menuruti aturan mereka. Ternyata hidup dalam aturan-aturan yang tidak berpihak pada diri kita itu tidak menyenangkan sekali.

By the way, cerita diatas hanya contoh kecil dari sebuah kebebasan yang salah diartikan. Bahasa kerennya adalah kebebasan yang tak bertanggung jawab. Dengan mengatasnamakan hak azasi manusia (HAM) banyak manusia-manusia diluar sana yang menggunakan kebebasan yang dimilikinya dengan seenaknya sendiri. Padahal kebebasan-kebebasan yang kita miliki selalu dibarengi dengan hak dan kewajiban untuk diri kita sendiri dan orang lain disekitar kita. Aku punya hak untuk hidup seenak udel-ku sendiri, tapi ternyata ada ortu yang terganggu dengan tingkah kebebasanku yang memang tidak semestinya. Jadi…aku juga harus membatasi kebebasanku agar tidak menggangu orang lain, bukan begitu?

Akhirnya aku ngerti bahwa kebebasan yang aku miliki sebagai manusia, tidak sepenuhnya bisa digunakan seenak hati. Kebebasan yang kita punya harus digunakan dengan baik dan bertanggung jawab sehingga tidak menganggu pihak lain.

*Waduh…lumayan pusinng juga bikin postingan kali ini, mending rapiin kamar aja biar gak diomelin lagi sama nyokap…..

16 thoughts on “Kebebasan yang (Tak) Bertanggungjawab

  1. Cuma salah pengartian presepsi kan mas,bukan salah memahami arti dari peristiwa yang melatar-belakangi peristiwa di atas, OK nice posting mas, sering2 di update ya biar saya lebih sering lagi mampir ke sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s