Sudut di Sebuah Coffee Shop -Part II-

Pulang kuliah aku dan Deni mampir ke Gramedia, mencari buku referensi untuk tugas kuliah. Pengunjung Gramedia sore itu ramai sekali, membuatku kurang nyaman untuk membaca buku lebih lama disana. Setelah mendapatkan bukunya, aku langsung bergegas menuju kasir untuk membayarnya.

“Siang…,” suara seorang cewek menghentikan langkahku.“…kamu yang nabrak aku kemarin kan?” tanya cewek itu.

Aku amati wajah yang kini ada dihadapanku. Wajah itu…, wajah yang dulu pernah ada dalam hatiku, wajah yang selalu aku rindukan, wajah yang dulu hilang saat aku mengejarnya, sekaligus wajah yang pernah membuat aku terluka. Kenapa kini datang saat aku sudah melupakan semuanya? “Oh ya?” jawabku dingin.

“Mungkin kamu sudah lupa, sudahlah kalau begitu. Maaf menganggu,” ujar cewek itu dan langsung berlalu meninggalkanku. Sepertinya dia sedikit malu karena aku tidak mengenalnya. Dari kejauhan aku masih melihat dia sedang asyik membaca sebuah buku. Ternyata dia tidak langsung pulang, atau kemungkinan dia baru datang dan begitu melihatku dia langsung menyapaku. Ada pertentangan batin dalam diriku, antara menemuinya kembali atau benar-benar melupakannya. Jika dia memang dihadirkan Tuhan untukku, inilah saat yang tepat untuk menemuinya dan lebih mengenalnya. Mungkin Tuhan masih memberikan kesempatan ke empat untukku. Aku menunda membayar buku di kasir lalu menemuinya. Langkah demi langkah terasa begitu berat untuk mendekatinya. Aku grogi atau aku ragu untuk mengenalnya? Entahlah…

“Hai…, aku baru ingat! Yang di mall itu kan?” tanyaku begitu aku sudah ada di dekatnya. Dia pun menoleh dan memberikan senyum manis yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Kami berjabat tangan untuk mengenal nama masing-masing. Ternyata nama cewek itu Tania.

“Waduh… masih muda, cakep lagi, kok pikun sih? “tanyanya berusaha mencairkan suasana. Tanpa menunggu waktu yang lama, setelah dia dan aku mendapatkan buku yang kami beli, aku mengajaknya ngobrol di sebuah restoran fast food. Deni sepertinya tahu kalau aku sedang tidak ingin diganggu, dia pun pamitan dengan alasan yang dibuat-buat untuk memberikan waktu kepada kami untuk berdua saja.

“Kamu sering nongkrong sendirian di Coffee Shop itu kan?” tanya Tania mengejutkanku.

“Kok kamu tahu?”

“Sering aja lihat kamu disana. Kok sendirian terus, emang ceweknya kemana? Nggak diajakin?”

“Oh ya? Berarti kamu sering dong perhatiin aku. Jangan-jangan kamu naksir aku ya?” tanyaku balik dan langsung membuatnya tertawa. Suara itu begitu merdu ditelingaku. Aku senang bisa membuatnya tertawa seperti itu. aku berharap bisa membuatnya tertawa selalu bersamaku.

“Kamu lucu juga, ya?”

“Kalau bener kamu juga sering nongkrong di Coffee Shop itu, kenapa aku jarang, malahan nggak pernah lihat kamu disana.”

“Kamu lebih suka memilih tempat di sudut kan daripada tempat lain di Coffee Shop itu?” tanya Tania.

“Iya…”

“Kita sama, dong. Aku dan teman-teman yang lain juga suka tempat itu. Jadi kalau kamu kesini, berarti aku dan teman-teman harus mengalah dengan tidak datang ke tempat itu. Biar nggak rebutan jadinya,” ujarnya kemudian terkekeh.

Kami berdua larut dalam obrolan yang tak ada habisnya. Kami seperti dua orang sahabat yang dipertemukan kembali setelah puluhan tahun tak bertemu. Ada saja topik yang jadi pembicaraan kami. Sembari menemaninya mengobrol, tak jarang aku mengamati wajahnya yang begitu mempesona. Aku benar-benar bahagia bisa berada di dekatnya. Aku merasa dialah seseorang yang aku cari selama ini, untuk menemani hari-hariku.

“Kamu sudah punya pacar?” tanyaku disela-sela obrolan kami.

“Apa perlu aku jawab?” jawabnya serius.

“Aku hanya ingin memastikan tidak ada orang yang marah saat aku mengajak kamu jalan, hanya itu!”

“Sudahlah, lupakan! Yang jelas, selama aku bisa menemani kamu jalan, itu berarti tidak ada seseorang pun yang akan marah saat melihat aku dan kamu jalan berdua.”

Aku rasa jawaban itu cukup mewakili atas apa yang aku tanyakan tadi. Dan besar harapanku untuk bisa menjadi pangeran dalam hidupnya kelak.

***

Kini aku tidak sendiri lagi menikmati Capucino di sudut Coffee Shop ini. Ada Tania yang selalu hadir menemaniku. Tak jarang para pelayan di Coffee Shop itu mengira kami adalah sepasang kekasih. Aku hanya bisa berharap semoga apa yang diucapkan pelayan tadi suatu saat akan terkabul. Aku sudah ada rencana untuk mengutarakan isi hatiku padanya, tapi tidak sekarang. Aku belum punya banyak keberanian untuk mengungkapkan semua itu padanya. Hanya waktu yang akan bisa menjawab kapan aku bisa melakukan itu.

Sesuai dengan kesepakatan kami berdua, jam tujuh malam seharusnya Tania sudah ada di sampingku, di sudut Cofffe Shop ini. Tapi sudah jam delapan, Tania belum juga muncul dihadapanku. Hal yang jarang Tania lakukan sebelumnya. Ada apa dengan Tania, mengapa akhir-akhir ini aku melihat sosok orang lain pada diri Tania. Apa dia sudah bosan dengan aku? tanyaku dalam hati.

Aku sudah berusaha menghubungi handphonenya, tapi tak pernah di angkat. Sms pun tak pernah dibalas. Tania benar-benar membuatku bingung! Apa sebenarnya yang terjadi dalam diri Tania?

Dalam kebingungan itu, aku memutuskan untuk pergi ke Coffee Shop itu lagi. Sendirian. Aku berharap Tania ada disana atau setidaknya  aku melihatnya dibalik kaca bening tempat aku duduk. Mengejarnya dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Atau malah aku menemukan Tania sedang nongkrong bareng teman-temannya.

Kenyamanan itu sedikit berkurang saat Tania kini tidak menemaniku. Ketidakhadiran Tania saat ini membuat aku menjadi pribadi yang lemah, yang butuh dikasihani. Padahal sebelum kenal dengan Tania, aku selalu baik-baik saja saat menikmati Cafucino di sudut Coffee Shop ini sendirian. Sesekali pandangan aku arahkan pada para pengunjung mall yang lalu lalang, berharap ada Tania disana.

“Tania…,” desisku, begitu melihat Tania sedang berjalan berdua dengan seorang cowok. Aku hanya bisa menerka-nerka cowok yang jalan bersamanya. Keluarganya, temannya, atau…. Aku tak berharap kalau cowok yang sedang jalan berdua dengan Tania itu adalah pacarnya. Karena selama ini Tani tidak pernah cerita kalau dia sudah punya pacar.

Tanpa pikir panjang, aku pun langsung keluar berusaha membututi kemana mereka pergi. Begitu sampai di depan, tidak aku temukan mereka. Mereka menghilang begitu saja. Aku berfikir, mungkin ini adalah jawaban atas perubahan dalam diri Tania selama ini. Tapi aku kembali berharap apa yang aku pikirkan tadi salah.

***

“Sepertinya Tania mempermainkanku, Den,” curhatku pada Deni. “Dia datang dan pergi dalam kehidupan aku. Aku bingung atas semua sikap dia akhir-akhir ini ke aku.”

“Emang kalian sudah jadian?” tanya Deni.

“Belum.”

“Itu masalahnya. Cewek itu butuh kepastian dari cowok yang sedang mendekatinya. Apa cowok ini serius atau nggak?”

“Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk ngomong ke dia. Saat aku sudah siap, Tania tiba-tiba pergi entah kemana.”

“Bukannya kamu pernah cerita melihat Tania jalan dengan cowok lain di mall? Jangan-jangan kamu sudah didahului orang lain,” ujar Deni menakuti aku.

“Entahlah Den, aku masih berharap kalau yang jalan dengan Tania kemarin cuma keluarga atau temannya saja.”

“Semoga saja. Tapi kamu harus siap kalau cowok yang jalan dengan Tania itu adalah pacarnya Tania. Semua bisa terjadi, kan?” ujar Deni. Deni benar, aku harus siap menerima kenyataan kalau Tania sudah menjadi milik orang lain. Tapi sebelum aku menerima kenyataan yang ada, aku harus minta penjelasan Tania, karena selama ini dia sudah membohongi aku.

“Makasih ya, Den. Nanti malam ikut aku ke Coffee Shop itu ya, pingin aja kesana walau disana nanti aku jadi teringat dengan Tania. Setidaknya aku nggak sendiri, ada kamu yang bisa aku ajak ngobrol.”

***

Dari luar aku melihat Coffee Shop itu penuh pengunjung. Aku tak berharap mendapat tempat duduk di sudut Coffe Shop itu, aku hanya berharap masih ada tempat duduk untuk aku dan Deni disana. Begitu masuk, tak kudapati tempat duduk disana, semuanya penuh. Dengan berat hati aku dan Deni harus melangkah keluar mencari tempat lain.

“Tunggu! Itu… bukannya Tania?” ucap Deni yang membuat langkahku tertahan.

“Mana?” Sungguh aku tidak melihat sosok Tania di dalam Coffee Shop itu. Coffee Shop itu begitu ramai, sulit mengenali mereka satu persatu.

“Itu yang di sudut, tempat biasanya kamu dan Tania duduk. Coba lihat lagi,” ujar Deni memperjelas. Benar saja aku melihat Tania dengan seorang cowok disana. Dan tenyata cowok yang aku lihat di Coffee Shop ini sama dengan cowok yang aku lihat di mall waktu itu.

Tangan Deni menahanku saat aku ingin melabrak Tania dan cowok itu. “Kamu tenang ya, jangan pakai emosi,” nasehatnya padaku. Deni mengajakku keluar sejenak, menenangkan aku sembari tetap mengawasi pintu masuk Coffee Shop itu.

“Tapi Den, jelas-jelas dia sudah membohongi aku. Apa aku salah?”

“Kamu harus ingat, Tania belum jadi milik kamu jadi dia masih berhak jalan dengan siapa  saja.” Aku tersadar dengan ucapan Deni tadi, Tania memang belum jadi milik aku.

“Kalau kamu tahu itu, mungkin saatnya kamu memperjelas semuanya. Sudah pergi sana, aku tunggu disini saja.”

Aku lalu memasuki Coffee Shop itu, menemui Tania dan cowok itu. Perlahan langkah kakiku berjalan sembari berusaha menenangkan diri setenang-tenangnya. “Tania,” sapaku padanya. Wajah keterkejutan itu sangat terlihat saat Tania tahu kalau aku yang ada dihadapannya.

“Kamu,” jawabnya terbata.

“Siapa Tania?” tiba-tiba suara cowok di depan Tania angkat bicara.

Dengan suara tergagap Tania memperkenalkan aku pada cowok itu. “Ini teman aku. Teman kuliah,” jawab Tania. Teman kuliah? Sejak kapan Tania jadi teman kuliahku. Sepertinya Tania berusaha menutupi jati diriku pada cowok itu.

“Oh… aku Rio, pacar Tania.” Kata-kata cowok itu begitu menyayat hatiku. Jadi semuanya benar kalau cowok yang kini bersamanya adalah pacar Tania. Aku benar-benar kecewa dengan Tania. Tega nian dia membohongi aku selama ini.

Pertama kali aku melihatnya saat aku duduk di sudut Cofffe Shop itu, di sudut itu pula aku habiskan banyak waktu bersama Tania, dan pada akhirnya kini, aku melihat Tania duduk di sudut Coffee Shop itu bersama cowok lain yang tak lain adalah pacar Tania. Aku harus benar-benar melupakan Tania dalam hidupku. Aku juga harus melupakan sudut Coffee shop itu, yang selama ini selalu memberi kenyaman pada diriku.

***

Maaf, aku hanya butuh seseorang yang bisa menemaniku saat orang yang aku cintai jauh di seberang sana.

Itulah sms Tania yang datang padaku beberapa hari setelah pertemuan itu.

14 thoughts on “Sudut di Sebuah Coffee Shop -Part II-

  1. wah selamat cerpennya diterbitin… well … dimana tuh diterbitinnya?? dan gimana ceritanya?


    [Hajier]
    Ini cerpen yang dimuat di Aneka Yess!, Edisi Februari 2009 yang lalu. Gimana caranya, langsung baca aja petunjuk pengiriman di majalah tersebut hehehe…

  2. tenang bro
    ada pepatah mengatakan
    ‘kalau saat ini kamu jadi milik orang, kutunggu jandamu’


    [Hajier]
    Waduh…sampe segitunya.
    Kalo gak jadi janda gimana, mo nunggu ampe kapan? hehehe….

  3. Ini cerpen sudah terbit?
    Woo..selamat..
    Terus menulis ya…ntar cerpennya kan bisa dibukukan


    [Hajier]
    Iya, udah diterbit. Amien, saya juga kepengen punya buku hasil karya sendiri. Thanx buat doanya

  4. Kalo mbahas yang namanya cinta2an, nggak pernah bak abisnya euy’..dan yang kita lihat ketika patah hati adalah semua antonim dari yang kita lihat ketika kita jatuh cinta..namun saya lebih bijaksana dan bijaksini jika belajar daru hal itu….🙂


    [Hajier]
    Iya, kalo bicara cinta kita harus pasti akan merasakan indah saat jatuh cinta dan pahit saat patah hati. Itu adalah sebuah resiko yang harus diterima saat seseorang bersentuhan dengan yang namanya ‘cinta’

  5. Ehmmmm
    Saya biasa nongkrongnya di kedai sahaja
    Mie Janda😀

    [Hajier]
    Kalo aku tahu tempat itu, pasti aku juga bakalan sering nongkrong disana? Dimana tuh?

  6. makin produktif nulis cerpennya, Kang..
    cinta memang sebuah topik yang tak pernah basi…
    salam sukses Kang..

    sedj


    [Hajier]
    Belum terlalu produktif, nulis cerpennya masih tergantung mood hehehe….

  7. cerpen nya bagus banget..awalnya saya fikir ini adalah kisah nyata, ternyata hanyalah sebuah cerpen..
    salut deh…smoga makin sukses ya sob…

    salam, ^_^


    [Hajier]
    Thanx buat doanya
    Thanx juga dah mampir

  8. sedaappp. mantap!!!
    tapi kok endignya dia punya cowok yah. ah, harusnya isi sms itu setelah pertemuan, “Maaf, mengganggu. aku tuh dah lama jatuh cinta sama kamu” wakakakakk.


    [Hajier]
    Maunya seh begitu, tapi jadinya begini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s