Hidup dalam Keterpaksaan

Hidup itu pilihan. Kita semua punya pilihan masing-masing untuk hidup kita. Dan masing-masing dari kita jugalah yang harus mempertanggung jawabkan baik dan buruk atas pilihan itu.

Ini adalah salah satu pilihan hidupku. Pilihan untuk menerbitkan postingan ini. Dan akan bertanggungjawab atas semua isi dari postingan ini. Siap menerima resiko apapaun kalau ada pihak-pihak yang merasa tersinggung dengan postingan ini.*Padahal gak bakalan ada yang tersinggung hehehe….*

Sampai sekarang, aku merasa hidup yang aku jalani bukan atas pilihanku sendiri. Melainkan pilihan Ayah. Pilihan-pilihan Ayah yang harus aku jalani.

Yang paling membekas dalam ingatanku adalah ketika selesai menamatkan SD. Menjadi murid terbaik dan peraih NEM tertinggi, tentu dengan gampang aku bisa melengggang ke SMP Favorit di Kotaku. Tapi…karena Ayah punya pemikiran lain, makanya aku gak jadi sekolah disana, tapi di sekolah lain. Kecewa itu pasti. Tapi mau bagaimana lagi, aku gak punya pilihan lain selain harus menurut pada pilihan Ayah.

Selepas SMA, kejadian terulang lagi. Aku disuruh Ayah kuliah di Kampus yang tidak pernah aku cita-citakan sejak SMA. Jadi… bagaimana mungkin aku bisa kuliah di tempat itu. Lagi-lagi aku hanya bisa menurut. Saat itu aku belum merasa siap untuk hidup mandiri tanpa bantuan orangtuaku. Selepas SMA pun aku bingung mo kerja apa. Jadi, satu-satunya cara agar aku bisa kuliah, aku harus menuruti perintah Ayah untuk kuliah di kampus pilihan Ayah. Hanya ingin membuat Ayah senang, akhirnya aku pun mendaftar di hari terakhir pendaftaran. Dengan formulir pendaftaran yang diisi secara massal oleh teman-temanku dan datang telat pada saat ujian, akhirnya aku sukses tidak masuk ke kampus itu.

Gagal masuk kampus itu, aku dibebaskan memilih kampus yang aku suka. Tapi…aku harus memilih jurusan yang Ayahku pilih. Huuhhh…sebenarnya siapa sih yang mau kuliah?! Aku hanya bisa pasrah dan melakukan semuanya yang diperintahkan Ayah untukku.

Puncaknya, setelah lulus kuliah. Lagi dan lagi Ayah selalu ikut campur atas pilihan hidupku. Ayah meminta aku kerja di A, tapi aku tidak menyukainya. Dan gak ada sedikitpun pemikiranku selesai tamat kuliah untuk kerja di A. Jadi, aku menolah perintah itu dan memilih untuk kerja di tempat B. Ternyata pilihanku di tempat B juga tidak disukai Ayah. Terserah Ayah setuju atau tidak, yang penting aku bisa kerja, itulah pikiranku saat itu.

Kalau kemudian aku berani memilih menolak mentah-mentah pilihan Ayah. Karena saat itu aku sudah merasa mampu untuk lepas dari bantuan Ayah. Dengan modal selembar Ijazah Sarjana, aku yakin bisa hidup sendiri. Aku tahu tujuan Ayah mengatur hidupku tujuannya baik. Nggak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya pada kehancuran. Untuk aku juga hasilnya. Tapi entah kenapa, semua yang Ayah pilihkan untukku selalu bertolak belakang dengan kata hatiku. Tidak pernah klop. Nggak heran kalau kemudian banyak terjadi ketegangan-ketegangan diantara hubungan aku dengan Ayah.

Entah karena durhaka sama Ayah karena tidak mendapat restunya, Pekerjaanku di tempat B agak tersendat-sendat. Banyak sekali cobaan yang aku hadapai saat bekerja di tempat B. Tapi bagaimanapun, aku tetap berjuang untuk bisa sukses bekerja di B. Untuk membuktikan ke Ayah bahwa pilihanku benar.

Sampai suatu ketika, dengan beragam pertimbangan sana sini akhirnya aku putuskan kerja di tempat B dan melamar kerja di tempat A. Semua ini aku lakukan bukan karena aku menyerah kerja di B, tapi semua itu aku lakukan sebagai bentuk pengabdian seorang anak kepada orang tuanya. Dengan hati yang belum ikhlas 100% -tanpa sepengetahuan Ayah- aku mencoba mendaftar di perusahaan A –Perusahaan yang tidak aku sukai. Alhamdulillah aku diterima bekerja disana. Dan tahulah apa yang terjadi kemudian, hubunganku yang sempat renggang dengan Ayah akhirnya rukun kembali. Dan terpancar dari wajah tuanya, bahwa beliau sangat bangga sekali padaku. Aku pun akhirnya juga bangga bisa membuat orangtuaku bangga padaku.  Bukankah itu yang seharusnya seorang anak lakukan pada oarangtuanya? Membuat bangga orang tuanya. Sehingga orang tua merasa bahwa jerih payahnya selama ini untuk merawat, membesarkan dan mendidik kita tidak sia-sia. Karena sang anak telah menjadi sesosok anak yang diinginkannya.

Dari perjalanan hidup ini, aku akhirnya tahu banyak hal. Bahwa yang kita anggap baik, belum tentu baik juga untuk kita, keluarga, orang lain dan juga menurut Tuhan. Dan sebaliknya, apa yang kita anggap buruk, mungkin itu yang terbaik untuk kita, keluarga, orang lain dan juga Tuhan.

Bukankah lebih baik bisa membahagiakan orang banyak dari pada hanya untuk membahagiakan diri sendiri?

12 thoughts on “Hidup dalam Keterpaksaan

  1. mas, paling nggak 5 thn mendatang tolong direview lagi keputusan berdasar permintaan ayah td, utk menguji saja siapa yg benar di antara keduanya.
    **sekarang sih jalani saja, itung2 pengabdian kepada ayah🙂


    #Hajier
    Siap mas. Tunggu 5 tahun dulu baru review

  2. Aku jadi terharu mas.. Salut utk sampeyan, yg selalu menaruh hormat dan patuh sama orang tua.. Meski juga kadang ada perselisihan disitu, tapi ternyata sampeyan masih tetep lebih berat rasa hormatnya pada orang tua.. Sekali lagi salut.. Apa pun itu pilihan orang tua, pastinya utk yg terbaik bagi kita.. Senang rasanya bila bisa melihat orang tua kita bangga dgn jerih payahnya… Salam hangat utk semua ya mas..

    #Hajier
    Nggak mudah memang untuk menjadi seperti itu. Tapi mungkin dengan itu aku bisa memberikan sedikit baktiku kepada mereka dan membahagiakan mereka dihari tuanya.

  3. setuju, saya tunggu review hasil keputusan ayah mas… apa memang benar kata orang kalo orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya, semoga saja tepat… salam kenal…


    #Hajier
    Kayaknya gak usah nunggu 5 tahun lagi, skrang aku review ya…
    Aku skrg sudah menjadi pribadi yang baik dalam banyak hal, tapi mungkinnn….. kalau yang aku jalani selama ini adalah pilihanku sendiri, aku bisa jadi pribadi yang lebih baik dari sekarang. May be Yess, May be No….

  4. ketersediaan lw ata keinginan orang tua itu merupakan bagian dari pilihan juga bro. memilih untuk memberikan kebahagiaan buat beliau atau tidak. karena walaupun kita belum bisa memberi materi buat orang tua, minimal kita bisa melakukan sesuatu hal yang membuatnya bangga dan bahagia


    #Hajier
    Bener banget kata lu Ting, itu juga sebuah pilihan hidup yang aku pilih untuk membahagiakan ortu
    *Tetep dengan terpaksa pastinya….*

  5. tapi kalau saya pribadi berprinsip kita tidak mungkin bisa membahagiakan orang lain kalau kita sendiri tidak bahagia.


    #Hajier
    Bener juga tuh mas. Tapi ada orang2 diluar sana yang harus berkorban demi kebahagiaan orang lain? Termasuk ….

  6. aku juga melakukan hal yang sama sejak spk hingga kuliah, tapi kini aku memilih pekerjaanku sendiri… karena akhirnya tidak nyaman sekali hanya menyenangkan dan membahagiakan orang lain, sedangkan kita sendiri gak bahagia


    #Hajier
    Saya mulai nyaman dengan pekerjaan baru saya, dan mungkin inilah jalan Tuhan yang sudah digariskan untukku. Aku hanya bisa mensyukuri semua yang telah terjadi dalam hidupku hiks hiks…. *Terharu made on*

  7. meski berat, meski dengan terpaksa, hidup harus dijalani
    tetap semangat Bung, hari esok harus lebih baik…
    salam sukses…

    sedj

    #Hajier
    Selalu semangat

  8. duh, Mas Riez semoga amal baktimu pada orut bisa berbuah sesuatu yg indah dariNYA.
    namun begitu, perlu juga ada peninjauan ulang paling tdk utk 2 atau 3 thn ke depan dan bicarakan lagi dgn Beliau.
    semoga sukses ya Mas Riez.
    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s