Sang Pengamen

Kerlap Kerlip di tengah laut

Lampu perahu nelayan

Sembilan Ribu bintang

Sempurna bentuk bulan

Perhiasan malam

Batang batang panjang pohon kelapa

Kerang kerang di pasir putih

Diantara mereka

Kita duduk berdua

Menyanyikan lagu cinta

Ya o o.. asyik-nya menikmati malam

Indah pantai indah laut

Suasana sunyi

Ya o o.. asyiknya menghabiskan malam

Rindu aku rindu kamu

Jadi satu

Yang ngerasa lahir ditahun 80-an pasti hafal sekali dengan lirik lagu itu. Maklum saja, lagu itu cukup populer di eranya. Kebetulan aku yang lahir di era 80-an jadi kembali bernostalgia dengan didendangkannya lagu itu oleh pengamen jalanan yang menemaniku dalam perjalananan pulang dari Palembang ke Pagaralam. Hmm…sepertinya sang pengamen tahu betul selera musik orang-orang yang ada di dalam bus yang aku tumpangi.

Lagu kedua, sang pengamen menyanyikan lagu Jangan Menyerah-nya D’Massive,lagu yang sedang hits saat ini. Tentu saja kami para penumpang ngeh dengan lagu tersebut dan akhirnya bersenandung sendiri dalam hati. Kami menikmati sekali lagu-lagu yang dibawakan pengamen tadi. Ya…even suara dan musik dari sang pengamen tadi sangat standar, tapi kami semua penumpang cukup terhibur.

Dan ketika sang pengamen menyodorkan plastik bekas bungkus permen kepada kami, lembaran uang seribu rupiah pun akhirnya memenuhi kantong plastik tersebut.

Di perempatan lampu merah Charitas –tepatnya didepan BI- Kota Palembang, banyak sekali pengamen yang naak ke atas Bis Kota untuk menghibur dan mengganggu para penumpang yang sedang menunggu lampu hijau menyalah.

Maka muncullah Bapak-bapak Tua dengan gigi ompongnya naik di Bis yang aku tumpangi. Sebelum memulai nyanyiannya, sang Bapak memberi prolog tentang lagu yang akan dinyanyikan yang juga merupakan lagu cintaan dia sendiri. Intinya… Bapak itu kasihan dengan anaknya yang tidak bisa sekolah karena tidak mempunyai biaya. Selesai bercerita, langsung Sang Pengamen tua itu memainkan senar gitarnya dan menyanyikan lagu ciptaanya. Suara denting gitar yang dipetik sangat tidak pas dengan nada lagu yang dinyanyikan. Kacau balau. Tapi bagaimanapun, aku tetap menghargai usaha bapak itu.

Akhirnya kurelakan uang Lima Ribu Rupiah masuk ke kantung plastiknya. Aku Cuma berharap semoga uang yang aku kasih dapat bermanfaat untuk biaya sekolah anaknya.

Beberapa hari kemudian, aku ketemu lagi dengan bapak pengamen itu. Sama seperti awal pertama ketemu, apa yang disajikan sama persis seperti pertama kali dulu aku melihatnya. Sesekali sang Bapak Pengamen itu berganti topik –entah tentang apa. Tetap dengan cerita yang mengharukan plus lagu ciptaannya sendiri yang kacau balau.

Tapi sepertinya aku tidak menikmati lagi suguhan itu. Cerita-cerita yang disampaikanpun sepertinya hanya cerita yang dibuat-buat. Aku tidak terharu lagi. Aku malah ketawa sendiri melihat cara bapak itu mendapatkan uang lebih dengan menjual cerita hidupnya. Seratus perakpun aku kini tak sudi lagi untuk memasukkannya ke kantong plastik yang disodorkannya padaku.

Sedang menikmati Ayam penyet di sebuah warung lesehan pinggir jalan, tiba-tiba datang pengamen menghampiri. Kemudian bernyanyi. Aku tak perlu mendengarkan Pengamen itu bernyanyi sampai habis untuk memberikan uang receh. Lebih baik segera aku berikan selembar uang seribu rupiah supaya pengamen itu diam dan lalu pergi ke tempat lain. Bukannya menghibur, kehadiran pengamen itu malah merusak selera makanku.

Pasti banyak teman-teman yang pernah mengalami hal yang sama seperti cerita diatas. Bertemu dengan pengamen yang menyenangkan dan pengamen yang menyebalkan. Walau kebanyakan orang memandang rendah profesi sebagai pengamen, tapi kalau dijalani dengan baik, profesi itu juga menjanjikan. Banyak juga kan Penyanyi atau Musisi yang kini sukses bermula dari dari seorang pengamen jalanan. Kalau tidak menjanjikan dan menghasilkan, kenapa banyak orang yang masih memilih menjadi pengamen. Itu berarti, menjadi pengamen juga menghasilkan. Cukuplah untuk biaya hidup sehari-hari.

Yang menjadi persoalan adalah, seberapa banyak sih pengamen yang tahu kalau tugas utamanya menghibur, bukan mengganggu? Nggak banyak kan? Maka gak heran kalau kemudian banyak pengamen yang memaksa sang pendengar untuk memberinya uang atau juga pengamen yang nyambi jadi pencopet atau penjambret. Mereka lakukan itu karena profesiya sebagai pengamen tidak menghasilkan. Gimana juga bisa menghasilkan kalau nyanyi sama main gitarnya asal-asal?! Siapa juga yang mo ngasih.

Sang Pengamen pun dituntut untuk bisa bekerja secara profesional. Mereka tahu tugasnya menghibur. Mereka harus tahu memainkan gitar dengan baik, bernyanyi dengan baik, hapal banyak lagu. Semua itu dilakukan sang pengamen agar tugasnya menghibur orang lain bisa dilakukan dengan baik.

Profesi Pengamen -yang banyak dianggap orang sebagai profesi rendahan- dituntun untuk profesional, tentu saja profesi-profesi lain –yang dianggap profesi terhormat- harus dilakukan dengan profesional pula. Apapun profesinya minumnya the botol sosro, selama dilakukan secara profesional, pasti akan menghasilkan. Jadi, semua profesi itu sama. Sama-sama dituntuk untuk dilakukan secara profesional.

16 thoughts on “Sang Pengamen

  1. Yang sangat mengganggu kalau pengamen itu pura-pura cuek padahal kita sudah beberapa kali menidakkan *tepok_jidat*


    #Dhodie
    Tepuk aja jidat pengamennya, berani? Hehehe…

  2. Yg pasti..mereka jadi pengamen, karna keadaan dan kondisi…🙂

    #Hajier
    Yup. Jarang yang memilih mengamen jadi pilihan hidup kecuali karena keadaan dan kondisi. Tapi ada juga kok yang menjadi pengamen karena panggilan hati, like Alm. Mbah Surip
    Ha… Ha… Ha…

  3. gw sukA banget ma lagu itu
    pastilah. pengamen itu ada yang enak didengerin dan ada juga yang gak enak sama sekali

    tapi yang jelas, gw dulu pengamen *curcol*

    #Hajier
    Lu termasuk pengamen yang mana Ting? Yang enak atau gak enak?
    Kayaknya tanpa u jawab semua pasti dah tahu u termasuk pengamen yang mana, iya kan? Pissss…

  4. sayangnya sekarang sulit membedakan: pengemis dengan pengamen… jika hanya membawa ukulele, nyanyi gak jelas, sedangkan di mobil udah ada audio yang suaranya bagus, mungkin mereka bukan pengamen, tetapi pengemis yang bawa alat musik… hehehe… salam sukses…

    sedj


    #Hajier
    Iya mas, susah membedakan mana yang pengamen sama yang pengemis berlagak pengamen

  5. Mungkin ngamen sudah jadi jalan rejekinya. Yang bahaya ngamen dijadikan kedok, begitu mobil agak sepi dan jumlah pengamennya banyak (lebih dari tiga orang) maka jadinya rampok. Ihhh ngeri, coy

    #Hajier
    Waspadalah, waspadalah…

    Thanx dah mampir
    Lam Kenal

  6. yupz bener banget kata bunda meski kadang sebel juga lagi asyik gitu diganggu ma om pengamen, tapi dia pasti tidak mau jadi pengamen pasti ingin lbh baik jika bisa

    berkunjung n ditunggu kunjungan baliknya makasih


    #Hajier
    Ok, Hajier segera meluncur kesana
    Lam Kenal

  7. pengamen yg profesional sangat menghibur..
    mereka benar2 bekerja dengan hati dan sepenuh jiwa
    seandainya semua pengamen bisa seperti itu…
    pasti kita semua merasa nyaman n sangat menghargai profesi itu…


    #Elmoudy
    Setujuuuuu…

  8. senadainya bapak tua itu profesional, ia akan membuat stok cerita mengharukan yg sangat banyak. kalo bisa ada 30 versi. satu versi akan berulang sebulan sekali he..he..


    #Hajier
    Ide yang bagus tuh, Mas. Tapi tampaknya Pak Tua itu kurang pintar hehehe….

  9. Kadang menimbulkan suatu dilema tersendiri dengan yang namanya “pengamen” jalanan ini. Kadang kita iba dan berbelas kasihan terhadap mereka, kadang juga jengkel nggka karuan pingin nimpuk pake klompen. Saya kadang mikir, seberapa miskin seh negeri ini. Toh, buat mensejaterahkan nasib rakyatnya aja nggak pernah mampu. Wah, jadi tambah jengkel kalo ingat 6,7 T di pake keperluan g penting buat kepentingan segelintir elit…..h


    #Hajier
    6,7 T-nya emangnya kemana? Kok aku ra ngerti blasss…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s