Puasaku yang Kacau

Ramadhan sebentar lagi tiba. Pastinya umat Muslim di penjuru dunia menyambutnya dengan suka cita. Termasuk saya. Selain mengharap berkah dan pahala, saya juga berharap perut saya yang buncit ini bisa sedikit mengempis *teutep usaha* karena waktu makan saya terbatas. Sambil menyelam minum air, begitulah kiasan yang tepat untuk saya hehehe….

Hmmm…. Jadi teringat masa kecil saya dulu. Saya dan teman-teman kecil saya selalu gembira menyambut bulan puasa. Ini dikarenakan waktu bermain saya dengan teman-teman lebih banyak. Maksudnya? Kalau gak puasa kan waktu mainnya cuma siang setelah pulang sekolah sampai sore. Malam kudu di rumah buat belajar. Sementara kalau bulan puasa, saya bisa main sama-teman-teman dari pagi selesai sholat subuh. Habis sholat shubuh biasanya langsung jalan-jalan. Malamnya, dengan dalih untuk sholat Tarawih, selepas berbuka dan sholat Maghrib, bisa langsung keluar rumah juga. Pokoknya menyenangkan. Selain karena ada hadiah baju lebaran dari ortu kalau puasanya sukses selama satu bulan penuh, juga karena ada persaingan sehat dengan teman-teman yang berlomba-lomba untuk tidak membatalkan puasa. Malu rasanya kalau ada puasa yang batal. Soalnya diujung bulan akan ada perhitungan berapa kali batal puasanya. Kalau ketahuan banyak puasanya yang batal, langsung deh dapat ejekan dari teman-teman yang puasanya sukses satu bulan penuh. Alhamdulillah, saat kecil dulu puasanya sudah bisa full satu bulan.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun pula. Tubuh semakin besar, usia semakin tua, pengalaman semakin banyak dan tentu ilmu pengetahuan semakin bertambah. Hari ini harus lebih baik daripada kemaren, begitulah pepatah yang tepat untuk menggambarkan perkembangan manusia yang semestinya. Bukan malah hari ini lebih buruk daripada hari kemaren. Semakin hari manusia dituntut untuk semakin baik hidupnya.

Kalau di waktu kecil puasa hanya sebagai rutinas tahunan untuk menahan lapar dan haus dari setelah subuh samapai Maghrib. Kini….setelah beranjak dari masa kecil ke remaja dan sekarang dari remaja beranjak dewasa, tentu pehamaman akan puasa tidak sesempit pemikiran saya waktu kecil. Ternyata puasa tidak sebatas menahan lapar dan haus, tapi juga menjaga hati, menjaga lidah, menjaga mata, menjaga pikiran dan menjaga semua yang ada dalam diri kita agar terhindar dari perbuatan tercela yang membatalkan puasa. Tentunya diiringi dengan banyak Ibadah untuk mendapatkan berkah dan pahala yang sangat melimpah di bulan Ramadhan.

Masa kecil saya dengan pengetahuan tentang puasa yang minim saja, saya bisa sukses menjalankan puasa satu bulan penuh. Tapi kini…., setelah remaja dan beranjak dewasa, disaat pengetahuan saya tentang puasa semakin banyak, hiks hiks hiks….., saya udah gak bisa lagi full menjalankan ibadah puasa. Tentu bukan karena saya kedatangan bulan seperti wanita pada umumnya. Tapi…karena diri saya sendiri. Ampuni hambaMu ini Tuhan…

Pertama, karena sejak SMU saya sudah hijrah ke pulau Jawa, jadi kalau lebaran pasti mudik ke pulau Sumatera. Dan mudik inilah yang menjadi alasan untuk tidak berpuasa. Islam sebenarnya membolehkan orang yang berpergian jauh untuk tidak menjalankan puasa. Walau sebenarnya dalam perjalanan jauh pun, banyak orang yang sanggup untuk puasa. Lagian perjalanannya kan nggak jalan kaki, tapi naik bis, kereta api atau pesawat. Nggak ngaruh kan sama ibadah puasa, tinggal duduk aja. Tapi ya itulah saya, lebih memilih untuk tidak puasa daripada puasa.

Kedua, karena nafsu mengalahkan keimanan saya. Itulah hebatnya setan, yang menjadi musuh bebuyutan manusia, walau katanya sudah diikat oleh Tuhan di bulan Ramadhan, tapi ajarannya dan pengikutnya masih berkeliaran di muka bumi ini. Terkadang saya tergiur oleh tawaran teman saya yang juga muslim untuk menikmati es kelapa muda di siang panas yang terik sehabis kuliah. Nggak  Cuma karena ajakan teman juga lalu membatalkan puasa saya, toh saya tentu dengan sangat bisa menolaknya Jadi… itu semua karena diri saya sendiri. Nggak ada teman pun terkadang saya membatalkan sendiri puasa saya. Maklum, tinggal di kota besar dengan penduduk yang multicultural membuat suasana puasa tidak begitu terasa seperti di kota tempat saya tinggal. Orang pun tidak akan memandang aneh orang-orang yang makan di siang hari. Jadi… saya dan teman saya santai aja kalau mau makan di sebuah tempat makan. Paling Cuma takut ketemu sama teman-teman yang lain. Soalnya di kampus atau kost-an, saya selalu bilang kalau saya puasa. Saya tahu saya nggak bisa membohongi Tuhan, tapi tentu saya bisa membohongi teman saya yang lain. Ibadah puasa kan ibadah antara seorang hamba dengan Tuhan. Jadi…biarkan puasa yang saya jalani menjadi urusan saya dan Tuhanku..

Kalau mengingat itu semua, pengen rasanya menangis, menyesali perbuatan bodoh saya dulu. Tapi sudahlah… itu hanya sebuah masa lalu untuk dijadikan pelajaran  bagi diri saya, untuk belajar pada kesalahan masa lalu saya agar tidak terulang kembali di masa yang akan datang. Kini saatnya untuk menyiapkan diri lahir dan batin, untuk menjalani ibadah puasa tahun ini dengan lebih baik.

Kapada kawan-kawan semua…
Mohon maaf atas segala salah dan khilaf yang telah saya perbuat…
Dan selamat menunaikan ibadah puasa bagi kawan-kawan yang menjalankannya…
Semoga kita selalu mendapat berkah dan pahala di bulan yang suci ini, Amien…

12 thoughts on “Puasaku yang Kacau

  1. godaan setan itu memang mengerikan bro, kadang memudahkan dan menggampangkan bahkan menghalalkan segala cara untuk menghindari sebuah ibadah….

    selamat berpuasa sob, semoga selalu diberi kekuatan

  2. puasa sudah masuk hari kedua, lancar2 kan mas? harapan kita, mdh2n puasa ramadhan taon ini jauh lbh baik drpd taon2 sebelumnya…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s