170809

-160809-

Tempat tidur itu sepertinya lebih menggoda untuk segera aku datangi daripada deretan hurup yang tertata rapi di layar laptopku ini. Dua jam sudah mata ini tak berhenti bertatapan dengan layar datar itu sembari jari jemariku menari lincah diatas keyboard. Huh! Inilah resiko menjadi seorang bawahan, selalu diperintah dan tidak punya kuasa menolak. Waktu liburan yang seharusnya aku gunakan untuk bersantai ria, sedikit terganggu dengan kerjaan kantor yang dilimpahkan sang bos padaku.

Jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Aku putuskan untuk mengakhiri pekerjaan ini. Mata sudah terasa begitu lelah, ingin segera terpenjam. Kalau dipaksakan hasilnya pun nanti tidak akan maksimal. Aku lalu beranjak ke tempat tidur dan langsung tidur.

Hey, apa kabar?” tanya seorang cewek cantik yang tiba-tiba menghampiriku yang sendirian duduk di pojok sebuah Cafe.

Hello….,” ujar cewek itu lagi begitu tidak mendapat respon dari aku.

Oh.. iya,” jawabku singkat. Jujur aku masih gak percaya didatangi oleh cewek secantik dia. Ditambah aku sama sekali tidak mengenalnya.

Kamu yang bla bla bla bla…..,” panjang lebar cewek itu menceritakan banyak hal tentang aku. Sementara aku sama sekali tidak mengenalnya.

Kamu siapa?” tanyaku balik.

Nggak penting siapa aku! Yang penting sekarang aku bisa ketemu kamu dan bisa ngobrol banyak dengan kamu,” balasnya santai. Aku setuju. Nggak penting siapa dia. Yang penting sekarang adalah aku gak sendiri. Ada seorang cewek cantik yang akan menemaniku untuk menghabiskan malam ini. Terima kasih Tuhan Engkau telah turunkan bidadari untuk aku malam ini.

Lantunan lagu Tak Gendong-nya Mbah Surip tiba-tiba terdengar dari handphone-ku, menghentikan sejenak obrolanku dengan cewek itu. Kulihat nama Dito, teman kerjaku, tertera di layar handphone. Dengan malas aku mengangkatnya, “Iya Dit, ada apa?

Maaf , dah ganggu tidurnya,” ujar Dito merasa bersalah.

Apa Dito bilang? Tidur. Aku sedang tidak tidur, aku sedang asyik ngobrol dengan cewek cantik di Café, batinku bicara. Lalu aku amati disekelilingku. Oh Tuhan, ternyata apa yang dikatakan Dito, benar. Aku mendapati diriku masih terbaring diatas tempat tidur. Cewek cantik yang ada di Coffe Shop tadi ternyata cuma mimpi belaka. Sial!

Hallo, Hallo…,” ujar Dito lagi. “Tidur lagi ya?”

Oh…gak kok!”jawabku linglung, antara sadar dan tidak. “Dit, ntar aku telpon balik aja ya. Aku mau cuci muka dulu biar gak ngantuk.”

Setelah cuci muka dan merasa lebih segar, aku langsung meraih handphone untuk segera menelpon balik Dito. Aku baru sadar setelah melihat angka 160809 di layar handphoneku. Itu adalah tanggal dimana Dito akan melangsungkan pernikahan. Dito adalah rekan kerjaku yang baru. Di usianya yang lebih muda dua tahun dariku, ternyata Dito lebih beruntung dari aku, selain sudah punya pekerjaan yang mapan, Dito juga sudah menemukan jodohnya yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.

“Dit, ada apa kok pagi buta gini nelpon?”

“Gak bisa tidur, neh. Nervous banget buat ngadepin besok,” ujarnya.

“Wajarlah Dit, namanya juga mau nikah. Pasti semua orang yang akan menikah pernah mengalaminya. Dibawa rileks aja, biar bisa dibawa tidur. Kan gak lucu kalo pengantennya besok ngantuk,” candaku padanya.

“Sudah dicoba tidur, tapi susah,” jawabnya lagi.

“Dicoba lagi aja sampai kamu ketiduran,” saranku sok tahu padanya. Bagaimana mungkin aku bisa memberi saran yang tepat padanya, sementara aku belum pernah sama sekali merasakan apa yang dirasakan Dito pagi buta ini.

Pukul 8 pagi aku baru bangun dari tidur. Sebenarnya mata masih mau berlama-lama terpenjam tapi berhubung banyak kegiatan yang harus aku ikuti, dengan terpaksa aku harus menahan rasa kantukku akibat begadang semalam. Agenda kegiatanku hari ini cukup banyak. Pertama, aku harus menghadiri pernikahan rekan kerja sekaligus sahabatku, Dito, yang semalam dengan suksesnya menghancurkan mimpi indahku. Sorenya ikutan kerja bakti bersama warga komplek untuk mempercantik komplek. Malamnya harus ikutan rapat lagi untuk persiapan acara tujuh belasan besok. Hal yang biasa terjadi menyambut HUT RI, semua orang jadi super sibuk, termasuk aku.

“Kapan nikah?” tanya pak Arman, seniorku dikantor yang kebetulan duduk disebelahku saat menghadiri resepsi pernikahan Dito.

“Gak tahu, pak. Belum ada jodohnya,” jawabku singkat dan terkesan malas untuk menjawabnya. Sudah puluhan atau ribuan kali pertanyaan itu mampir ditelingaku. Dan berulang kali pula aku menjawabnya dengan jawaban yang sama.

“Buruan nikah, ntar keburu tua,” ujarnya lagi.  Tua? Umurku yang baru seperempat abad apa pantas sudah disebut tua? Jadi gak kebayang betapa tertekannya orang-orang yang usianya jauh diatas aku dan belum menikah. Semua orang pasti juga bertanya padanya, kapan nikah?

“Kapan nyusul?” pertanyaan itu keluar lagi dari Dito, sang pengantin saat aku memberi ucapan selamat padanya. Hanya sebuah senyuman aku berikan padanya sebagai jawaban atas pertanyaannya itu.

Satu persatu akhirnya selesai semua kegiatan hari ini. Kerja bakti sudah, rapat buat acara besok juga sudah kelar, hanya kerjaan kantor yang belum tersentuh malam ini. Tapi sepertinya mata sudah nggak bisa diajak kompromi lagi untuk mengerjakan tugas kantor yang tinggal sedikit lagi. Mending langsung tidur biar besok lebih segar dan bisa mengerjakan tugas kantor dengan baik dan benar.

-170809-

“Andi, pa kabar?” tiba-tiba Ratih, teman kuliahku, muncul dihadapanku bersama suami dan kedua anaknya. Aku lalu berkenalan dengan suami dan kedua anaknya. Melihat kelurga kecil yang bahagia itu, sedikit membuatku iri. Apalagi begitu tahu suami Ratih, usianya tidak beda jauh dariku. Di usia yang hampir sama denganku, dia sudah punya keluarga kecil yang bahagia, sementara aku belum ada siapa-siapa.

“Kamu sama siapa kesini? Istri kamu mana?” tanya Ratih lagi yang mengira aku sudah punya istri.

“Aku belum menikah,” jawabku.

“Serius?” tanya Ratih gak percaya. “Buruan nikah, jangan kelamaan melajang. Menikah itu enak, lho…” pesan terakhir Ratih sebelum pergi meninggalkan aku.

Dari obrolan-obrolan dengan teman-temanku yang sudah menikah, emang yang dikatakan Ratih itu benar. Menikah itu enak. Aku juga ingin menikah. Tapi mungkin tidak untuk waktu dekat. Masih banyak yang harus aku kerjakan untuk menuju gerbang sebuah pernikahan.

“Sendirian mas, istrinya gak diajak?” tanya seorang pelayan  saat menghidangkan makanan pesananku di sebuah restoran.

“Belum punya istri, mbak,” jawabku lesu.

“Oh…,” jawab si mbak pelayan dan langsung berlaku meninggalkan aku. Menu makanan di meja yang awalnya begitu menggiurkan kini berubah hambar. Aku sudah tak tertarik lagi untuk menyantapnya.

“Kok buru-buru, mas? Anaknya sakit, ya?” tanya kasir restoran itu yang melihat gelagat aneh padaku. Setelah membayar, aku langsung pergi tanpa harus menjawab pertanyaan gak penting itu.

“Kapan nikah?” seseorang tiba-tiba datang hanya untuk bertanya pertanyaan yang gak penting itu lagi padaku.

“Bukan urusan kalian!” bentakku kesal.

“Kapan nikah?” lagi dan lagi orang yang tidak aku kenal semuanya jadi sok perhatian padaku.

Arghhhh….!!!!Dengan nafas terengah-engah lalu aku buka mata dan menemukan diriku diatas tempat tidur. Lagi-lagi apa yang barusan aku alami hanya sebuah mimpi. Mimpi buruk.

Kuraih handphone yang tergeletak disampingku untuk melihat jam berapa sekarang. Aku terkejut begitu melihat banyak panggilan tak terjawab dan sms yang masuk ke handphoneku. Apa yang terjadi? Batinku bertanya. Handphone memang sengaja aku getarkan karena aku gak mau tidurku terganggu oleh siapapun selepas pulang rapat tadi malam. Waktu sudah menunjukkan pukul dua malam. Aku buka satu sms yang masuk, Happy Birthday, Happy Birthday, Happy Birthday…Wish You All The Best.

Aku terhenyak membaca sms itu. Aku  lupa kalo pagi ini sudah masuk tanggal 17 Agustus 2009, hari kelahiranku. Ini berarti sudah 26 tahun sudah aku hidup di dunia.

Aku beranjak dari tempat tidurku dan dengan wajah yang masih kusut aku bercermin di depan kaca kamarku. Berbagai pertanyaan langsung melintas dibenakku. Apa ada yang salah dengan wajah atau tubuhku ini sehingga sampai saat ini belum mendapatkan jodoh yang cocok? Tidak. Atau karena aku belum bisa membuka hati untuk orang baru  di sekitarku? Mungkin. Atau juga karena aku terlalu pilah pilih wanita yang akan mendampingiku kelak? Mungkin juga. Tapi itu wajar kan kalo aku mencari sosok pendamping yang tepat untukku, yang akan mendampingi hingga akhir hidupku.

Aku ambil air wudhu mensucikan diri untuk menghadap sang Khalik. Untuk mengucapkan rasa syukur atas segala yang telah diberikan padaku. Tak lupa sebaris doa aku haturkan padaNya.

Ya Allah, Ya Tuhanku…

Berjuta syukur hamba panjatkan padaMu…

Atas semua anugerah yang telah Engkau berikan selama ini…

Ya Allah, Ya Tuhanku…

Lapangkanlah jalan bagi hamba untuk meraih RizkiMu…

Rizki yang telah engkau tebarkan di muka bumi in…

Ya Allah, Ya Tuhanku…

Turunkanlah bidadari langitMu untukku…

Untuk menemani hamba beribadah padaMu…

Untuk Menemani hamba menuju surgaMu…

Ya Allah, Ya Tuhanku…

Hanya kepadaMu hamba menyembah…

Dan hanya kepadaMu lah hamba meminta pertolongan…

Amien…

20 thoughts on “170809

  1. Semoga Tuhan…mengabulkan semua permohonan dan harapan Mas Hajier… Selamat Ultah yaa Mas… Moga panjang umur, banyak rezeki, sehat wal afiat, serta diberi keselamatan dan kebahagiaan dari Yang Maha Kuasa…Amin
    Salam hangat.. Salam damai selalu…

    Thanx atas doanya, kawan..
    Salam hangat dan damai selalu….

  2. pertamax nih…
    kapan nikah?. pertanyaan penting dan juga kadang gak penting walaupun sangat penting. semoga makna 8 windu kemerdekaan bisa menjawab pertanyaan tadi.

    Setuju bgt, bro…
    Pertanyaan itu kadang gak penting dan kadang juga penting. Apalagi nikahnya….penting bgt tuh!!!

  3. Pertamaxxxxx mpe kelimaxxxxxxxxxxx

    Pokoknya selamat ulang tahun buat lw bro
    semoga segala cita dan cinta terwujud seiring bertambahnya usia ^_^

    Amien…
    Thanx ya…
    Salam sinting selalu…

  4. aku datang,
    aku datang untuk memberi penghargaan setingi-tingginya atas cerita yang penuh makna,

    apabila denger kata kapan nikah…? saya aja terkadang bingung sendiri mau jawab apa, he.. he pengen sih tapi…..?

    Selamat Ulang tahun juga saya ucapkan semoga Yanga Maha Kuasa selalu menyertai

    salam

    Thanx dah mampir

  5. aku datang,
    aku datang untuk memberi penghargaan setingi-tingginya atas cerita yang penuh makna,

    apabila denger kata kapan nikah…? saya aja terkadang bingung sendiri mau jawab apa, he.. he pengen sih tapi…..?

    Selamat Ulang tahun juga saya ucapkan semoga Yang Maha Kuasa selalu menyertai

    Kita senasib ya kawan…
    Amien atas semua doanya…
    Lam kenal!!

  6. selamat mengenang hari kelahiran mas…
    nikah? kalem aja baru 26… msh ada setahun bro(hiks, ini klo referensinya saya loh😀 )
    semua pertanyaan dan penyataan ttg pernikahan tanggapi saja dng enteng, jng jd beban… klo sdh waktunya, punya istri jg kok🙂

    Iya mas, dari dulu plannya usia 27 kok. Tapi melihat keadaan sekarang kok susah untuk mewujudkannya di usia itu…
    Tinggal menunggu waktu yang tepat dan org yang tepat!!

  7. 🙂 Postingan yang segar sekaligus merupakan curahan hati yang mendalam, sy doakan semoga mendapatkan jodoh yang tepat pada saat yang tepat! Selamat hari lahir…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s