Masangin @ Jogja

Tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata para wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Setelah mampir ke Malioboro, Alun-Alun Selatan dan mengunjungi Keraton, tidak lengkap kalau tidak sekalian mampir ke Alun-Alun utara. Tak hanya mampir, tak juga hanya melihat, tapi juga sekalian mencoba kesaktian pohon beringin yang tidak biasa ini yg biasa dikenal dengan istilah Masangin.

Sewaktu masih kuliah di Yogyakarta, selama 5 tahun saya hanya menyaksikan pohon beringin itu tanpa mau mencobanya. Sebenarnya ada keinginan saya untuk mencobanya dan untuk membuktikan apa yang selama ini orang-orang bilang tentang pohon beringin benar. Akan tetapi, saya ini orang yang nggak suka atau takut lebih tepatnya dengan hal-hal yang berbau supranatural. Jadi keinginan itu hanya bisa dipendam saja. Selama itu juga biasanya saya hanya memutari alun-alun itu dengan sepeda motor atau sekedar nongkrong dan ngobrol bareng teman-teman sambil menikmati wedang ronde (minuman yang aneh bagiku, red) di malam hari.

Sampai pada akhirnya, bulan-bulan terakhir di Yogyakarta, saya berkesempatan untuk mencobanya. Semua ini bermula saat ada kasus pencurian dua buah hp di kost. Karena tidak tahu sipa pelakunya, salah satu teman menyarankan untuk menanyakan pelakunya kepada ‘orang pintar’. Orang pintar itu ternyata adalah pawang (penjaga, red) dari pohon beringin itu. Sekitar pukul satu pagi kami tiba disana. Masih saya temui banyak orang yang mencoba-coba keajaiban pohon beringin itu. Satu persatu akhirnya mereka pulang dan saatnya saya dan teman-teman menemui pawang tersebut. Mengutarakan masalah dan selanjutnya satu persatu kami mencoba melintasi kedua pohon beringin tersebut.

images3Seorang teman dengan pede-nya menjadi yang pertama mencoba. Dengan sok-nya saya bilang ke dia, ”Bisa nggak? Jangan-jangan malah balik lagi ke awal mulai jalan!” Hasilnya…. seperti yang saya duga, teman saya tidak berhasil berjalan diantara kedua pohon beringin tersebut. Percobaan pertama dan kedua semuanya gagal, semua menyamping ke arah kiri.

Ternyata ada aturan-aturan tertentu untuk bisa berjalan di antara kedua pohon beringin itu, tidak sekedar menutup mata saja. Salah satunya adalah kita menginjak sebuah batu sebagai start untuk memulai dan langkah kanan sebagai langkah awal. Kami beruntung bisa mencoba itu didampingi sang pawang tersebut. Kenapa beruntung? Karena biasanya saat siang atau malam banyak yang mencobanya. Dan melakukannya berbarengan dengan pengunjung lain. Artinya melakuakan itu sembarangan tanpa bimbingan sang pawang.

Kami beruntung karena bisa mencobanya satu persatu dan di awasi sang pawang. Langkah-langkah kita saat berjalan di antara kedua pohon beringin itu, ternyata adalah cerminan dari kepribadian yang kita miliki. Selama ini yang kita pahami hanyalah bahwa kalau berhasil berarti orangnya baik, kalau nggak berhasil orangnya jahat atau mempunyai sifat-sifat buruk lainnya. Itu juga benar, tapi tenyata maknanya lebih dari itu. Saya tahu itu setelah salah satu teman yang pertama kali mencoba dipanggil sang pawang dan menjelaskan alasan kenapa teman saya berjalan ke samping kiri, tidak lurus kedepan.

Giliran saya sekarang. Dengan baca Bismillah saya melangkahkan kaki dengan seyakin-yakinnya langkahku lurus-lurus saja. Melangkah dalam kegelapan membuat saya pusing ditambah dengan ketakutan nggak jelas dalam diri saya, membuat langkah saya yang awalnya yakin seyakin-yakinnya berubah menjadi sebuah keraguan. Sampai akhirnya pundak saya di tepuk seseorang yang itu menandakan untuk berhenti. Begitu mata terbuka……semua teman-teman menertawakan saya. Saya tak tahu apa yang mereka anggap lucu pada saya, karena saya masih bingung di posisi mana saya sekarang. Begitu sadar… eh…. ternyata saya kembali ke awal start tadi. Pantas saja saya menjadi bahan tertawaan teman-teman. Sialan! Teman-teman bilang kalau saya tadi cuma berputar-putar dan kembali lagi ke awal.

Berputar-putar? Tanyaku dalam hati. Perasaan tadi jalannya lurus-lurus saja. Lalu salah satu teman kemudian nyeletuk, ”Makanya jangan somboong, tadi ngomongin orang! Gak tahunya kamu sendiri yang begitu hahahaha…….”

Saya kembali mencoba untuk kedua kalinya. Belajar dari yang pertama, saya yakin ini akan berhasil lebih baik. Kalau pun tidak bisa berjalan lurus, minimal ke samping, tidak kembali ke awal. Hasil yang kedua adalah…. sama saja! Lagi dan lagi saya jadi bahan tertawa teman-teman. Setelah itu saya dipanggil sang pawang dan dijelaskan mengapa jalan saya tadi berputar-putar. Ternyata saya punya pribadi yang …….. dan menjelaskan sifat-sifat jelek yang saya miliki satu persatu.

Selanjutnya satu persatu teman mencobanya. Tapi saya sudah tak perduli lagi, saya malah berfikir perkataan saya kepada teman saya yang mencoba pertama kali. Apa ini yang disebut karma? Di tempat yang bagi saya cukup menakutkan, saya berkata seenak hati. Padahal kata-kata itu tidak bermaksud apa-apa, hanya sebagai lelucon belaka. Tapi pada kenyataannya apa yang saya katakan malah berbalik kepada saya sendiri. Huh…. menakutkan! Saya jadi menyesal berkata sembarangan di tempat keramat seperti itu.

Saya juga mencermati ucapan sang pawang setelah saya berjalan ke arah beringin itu. Apa yang dikatakan pawang hanya sebuah kebetulan saja atau karena sang pawang memang ahli, semua yang dikatakan semuanya benar. Selain menyebutkan sifat-sifat jelek yang segera harus saya hilangkan, tak ketinggalan sang pawang juga meramal tentang masa depan saya. Percaya nggak percaya, salah satu dari yang diramalkan pawang tersebut, kini telah mendekati kenyataan!!!

2 thoughts on “Masangin @ Jogja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s