Radio Kematian

Sudah dari jam sebelas malam aku putuskan untuk tidur mengingat besok akan ada ujian dipagi hari. Susah payah aku berusaha untuk tidur malam ini, tapi mataku susah sekali untuk terpejam. Penanda waktu di handphoneku sudah menunjukkan pukul satu pagi, itu berarti usahaku selama dua jam untuk tidur ternyata belum berhasil. Lalu aku keluar kamar, mencari teman kost yang masih terjaga di pagi ini. Aku berharap ada teman yang bisa aku ajak ngobrol pagi ini sembari menunggu kantuk benar-benar datang. Sepertinya semuanya telah tertidur. Tak ada sedikitpun suara yang menandakan bahwa ada teman kost yang masih terjaga malam ini. Dino yang biasanya tidur saat subuh pun ternyata memilih untuk tidur malam ini. Mungkin karena seharian Jogja diguyur hujan sehingga malam ini terasa begitu dingin, sehingga banyak orang memilih untuk tidur daripada melakukan aktivitas seperti biasanya.

Sepertinya memang aku harus menghabiskan malam yang dingin ini seorang diri. Siaran televisi, atau bermain games di komputer sepertinya bukan pilihan yang tepat saat rasa kantuk menyergap. Akhirnya aku memilih kembali berbaring sembari menghidupkan Radio yang masih tetap mengudara di pagi buta. Lagu-lagu berirama slow melow yang terdengar dari Radio itu perlahan membuat mataku terpejam. Tapi itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba aku terbangun setelah mendengar suara merdu seseorang gadis dari radio disampingku. Suaranya membuatku memaksakan diri untuk terjaga mendengar isi obrolan gadis itu.

”Halo, dengan siapa ini?Dimana?” tanya sang penyiar Radio.
”Ini dari Dewi, di Sagan,” jawab sang penelpon

Kemudian berlanjut dengan basa basi perkenalan antara penyiar dan penelpon. Aku sempat menyesal harus bangun dari tidurku hanya untuk mendengar percakapan yang menurutku biasa saja. Sampai akhirnya Dewi meminta waktu lebih kepada penyiar untuk bisa menceritakan masalah yang dihadapinya.

”Ok, mau cerita tentang apa?” tanya penyiar lagi.

Dewi lalu bercerita panjang lebar tentang masalah yang dihadapinya. Isak tangis selalu menemani setiap kata-kata yang meluncur dari mulut Dewi. Aku yang hanya bisa mendengar suara itu jadi ikut bersedih atas masalah yang dihadapi Dewi.

”Dewi… dengan masalah berat yang kini dihadapi Dewi, itu menunjukkan bahwa Tuhan masih sayang sama Dewi. Saya yakin Dewi akan kuat menghadapi cobaan ini dan kita semua yang pagi ini mendengar masalah Dewi, selalu berdoa yang terbaik untuk Dewi,” jawab penyiar.

Radio tidak hanya bisa menghibur kita dengan lagu-lagu yang di putarkan. Radio ternyata juga bisa menjadi salah satu tempat kita berbagi atas segala permasalahn yang kita hadapi. Disaat tak ada orang lain yang bisa kita ajak untuk berbagi, radio adalah salah satu pilihan yang tepat untuk mengeluarkan beban kita. Tanpa orang lain tahu siapa jati diri kita sebenarnya.

Aku kini jadi rutin mendengarkan radio menjelang tidur. Berharap suara Dewi kembali mengudara, kalau pun tidak aku bisa mendengar suara-suara Dewi lainnya yang tak segan untuk berbagi masalah hidupnya kepada penyiar radio. Aku jadi tahu, diluar sana masih banyak orang-orang yang kurang beruntung dibanding diriku. Saat aku sendiri, diluar sana ada orang yang lebih merasa sendiri dibanding aku. Aku juga merasa iri dengan kebahagiaan yang diceritakan pendengar lainnya. Sebuah kebahagian yang belum atau tidak pernah aku rasakan. Terkadang aku juga punya teman senasib seperjuangan, secara apa yang telah diceritakan di Radio sama persis dengan apa yang aku alami. Radio kini menjadi teman menjelang tidurku.

Malam ini tanpa sengaja aku kembali mendengar suara Dewi mengudara, menemaniku yang sedang mengerjakan tugas kuliah. Suara merdunya kembali terdengar, tapi suara merdu itu sama seperti sebelumnya. Suara merdu itu masih menandakan bahwa pemilik suara itu masih punya beban yang amat berat.

Dewi, kan kamu sudah berusaha melakukan segala hal untuk kesembuhan kamu. Kamu harus yakin kalau kamu akan sembuh. Masalah vonis Dokter, jangan terlalu dipikirkan, semuanya kita serahkan pada Tuhan.” balas sang penyiar.
”Iya mbak, Dewi sudah berusaha bersikap seperti itu, tapi melihat pekembangan penyakit Dewi, rasanya sulit untuk bisa bertahan hidup lebih lama.”
”Lupakan vonis Dokter itu. Sekarang yang penting kamu tetap berusaha sembuh. Masalah umur, kita serahkan sepenuhnya kepada Tuhan.”

Andai saja kini aku ada di posisi Dewi, mungkin aku juga akan merasakan hal yang sama seperti yang kini dirasakan Dewi. Rasa pesimis untuk hidup itu pasti akan ada saat aku tahu bahwa umurku sudah tak berumur panjang lagi. Semua manusia pasti akan mati, tapi mati dengan kondisi penyakit yang parah seperti yang dialami Dewi, tidak semua orang bisa menerima itu. Hidup Dewi kini sudah ditentukan oleh waktu yang selalu berputar tanpa henti. Semakin lama waktu itu berputar, semakin dekat pula waktu Dewi untuk meninggalkan orang-orang yang dicintai selama hidupnya.

Cerita Dewi semalam masih ada dalam pikiranku saat aku duduk di ruang kuliah. Dosen yang sibuk menerangkan bahan kuliah pun tak mampu mengalihkan perhatianku dari malah yang dihadapi Dewi. Lagi dan lagi, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi Dewi.

Aku selalu bertanya-tanya pada diri sendiri, Dewi yang bukan siapa-siapa aku, tapi mengapa aku selalu memikirnya. Jangankan mengenal pribadi seorang Dewi, wajahnya pun aku tidak tahu.. Sampai teman- temanku merasakan ada perubahan pada diriku belakangan ini. Aku sendiri hanya bisa membantah tuduhan itu karena aku tidak merasakan perubahan sedikitpun. Kecuali menjadi seseorang yang selalu melamun, melamunkan Dewi.

”Dewi, seharusnya kamu bersyukur mempunyai seseorang yang masih mau menerima kamu apa adanya, malah sudah berniat mengajak kamu menikah,” ujar penyiar menjawab pertanyaan Dewi yang pagi itu kembali mengudara.
”Tapi Dewi nggak mau menjadi beban hidup dia,” jawab Dewi.
”Kesediaan dia untuk tetap menikahi kamu itu berarti dia siap menanggung segala resiko yang terjadi setelah kalian hidup bersama. Kamu beruntung bisa menemukan lelaki seperti itu, lelaki yang masih tetap mencintai kamu setelah tahu kondisi kamu yang sebenarnya. Jarang ada lelaki yang setia seperti itu. Saran saya, kamu harus menerima ajakan dia untuk menikah.”
”Tapi, Dewi takut setelah menikah nanti Dewi tidak bisa membahagiakan dia, Dewi takut malah mengecewakannya.”
”Dewi, kalau kamu takut tidak bisa membahagiakan dia, izinkan dia untuk bisa membahagiakan kamu disaat-saat terakhir hidup kamu. Kamu harus hargai niat suci dari pacarmu itu.”

Lelaki yang luar biasa, itulah ungkapanku setelah mendengar masih ada seseorang lelaki yang masih tetap mau menikahi Dewi setelah tahu penyakit yang diderita Dewi. Jarang sekali ditemukan lelaki seperti itu di saat sekarang .ini. Aku pun sebagai lelaki, belum tentu bisa melakukan apa yang sudah dilakukan oleh pacar Dewi. Aku berharap Dewi mau menerima pinangan lelaki yang luar biasa itu. Semoga kebahagiaan yang didapat Dewi setelah pernikahan itu.

Sudah sebulan sudah aku tidak mendengar suara Dewi mengudara di radio. Aku ingin mendengar kabar bahagia dari dia setelah pernikahan itu. Semoga kebahagiaan itu menjadi sebuah keajaiban bagi hidup Dewi selanjutnya. Aku sudah punya rencana jika suatu pagi Dewi kembali mengudara. Aku akan menelpon radio itu dan mengucapkan selamat atas pernikahan itu. Walau aku bukan siapa-siapa, setidaknya Dewi merasa ada orang-orang yang selalu mendoakannya selalu, selain keluarga dekat Dewi tentunya.
”Halo, dengan siapa? Dimana?” tanya penyiar radio pagi itu.

”Dengan Rudi di Sagan,” jawab penelpon.
”Baru pertama kali on air di radio ini?” tanya penyiar.
”Iya,” jawab lelaki itu. ”Sudah lama ingin telpon ke radio ini, tapi nggak pernah kesampaian. Syukur sekarang aku bisa on air pagi ini.”
”Selamat datang yang di program insomnia malam ini. Semoga bisa jadi pendengar yang setia radio ini. By the way, kok pagi sedingin ini belum tidur? Lagi ngerjain tugas atau memang nggak bisa tidur seperti para insomnia lainnya?
”Sengaja belum tidur untuk acara ini. Karena ada yang mau diceritakan untuk semua pendengar radio ini.”
”Oh ya, cerita tentang apa?”
“Kenal dengan Dewi? Beberapa bulan lalu Dewi sering sekali on air di acara ini?
“Dewi?” tanya penyiar bingung karena ada beberpa nama Dewi yang setia on air di acaranya. “ Dewi siapa ya, mas?”
“Dewi sagan. Dewi yang selalu menangis saat on air di Radio ini?
“ Dewi yang….” terka penyiar tanpa melnjutkan kalimatnya lebih jelas.
”Iya. Saya Rudi suaminya. Akhirnya kami menikah satu bulan yang lalu.
”Syukur kalau begitu. Itu berita yang bagus sekali. Saya dan pendengar lainnya selalu menunggu Dewi on air kembali. Ingin mendengar cerita tentang pernikahannya,” cerocos sang penyiar. ”Selamat ya mas, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmat.
”Terima kasih,” jawab Rudi.
”Kalau boleh tahu mas, Dewinya sekarang dimana? Kok suaminya yang menelpon?”
Butuh waktu yang lumayan lama untuk Rudi menjawab pertanyaan itu. Penyiar jadi penasaran dan berulang-ulang memanggil nama Rudi kembali, ”Halo… Rudi… masih disana?”
”Halo,” suara Rudi kembali terdengar. ”Sulit bagi saya untuk menceritakan semuanya,” lanjut Rudi. Dengan terbata-bata Rudi kembali menceritakan semuanya, ”Dewi… sudah berpulang ke hadapan Tuhan seminggu yang lalu. Saya selaku keluarga, minta maaf kalau selama ini Dewi ada salah dan khilaf kepada penyiar dan semua pendengar radio ini. Dan meminta doanya, semoga arwah beliau di terima dihadapan Tuhan.”
”Amin.”

Aku tercekat mendengar itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s