Cerita On Air

imagesSudah kebiasaan dari kuliah dulu, malam-malamku sebelum tidur selalu ditemani Radio yang tentunya masih on air diatas jam 12 pagi. Sebuah hiburan bagi para penderita Insomnia atau orang-orang yang harus bekerja di pagi buta. Selain mendengar lagu2 yang lagi hits, juga bisa mendengar cerita2 pendengar lain yang bertelepon ria secara on air di radio. Aku juga dulu ada seorang penelpon malam yang pada akhirnya kemudian bisa kenal dengan para penyiar dan juga pendengar lainnya.

Terkadang iri dengan cerita2 para pendengar yang begitu bahagia dengan beribu alasan yang bisa membuat aku iri karena tidak pernah/belum/bisa merasakan kebahagiaan yang pernah mereka rasakan. Ada juga rasacsedih, bersyukur, merasa senasib atau juga menyalahkan apa2 yang telah diceritakan sang penelpon.

Ada sebuah cerita on air di Radio yang sangat menyentuh, yang sebagai pemula dalam bidang tulis menulis, akan membuat konsep cerita itu menjadi sebuah cerpen. Dan karena sebagai penulis pemula, tentu butuh waktu yang cukup lama untuk mewujudkan itu semua.

imagesa

Malam itu, topik yang dibahas adalah tentang pekerjaan. Seorang penelpon yang selanjutnya kita kasih nama samaran Leo, bercerita bahwa sebenarnya pekerjaan yang dilakukannya Leo selama ini tidak sesuai dengan keinginannya. Tapi Leo harus tetap menjalani semua itu, karena dengan pekerjaan itu, ortu, adik-kakak dan keluarga besarnya sangat bangga dengan itu semua. Berbeda tanggapan keluarga saat Leo tidak bekerja di situ tapi bekerja di tempat lain. Sudah bekerja rasanya sudah cukup bagus saat ini, disaat krisis global yan tak kunjung selesai yang berdampak pada bangkrutnya banyak perusahaan sekaligus PHK kepada banyak pekerja, dan disaat ribuan pencari kerja pontang-panting mencari kerja. Tapi faktanya, keluarga lebih bangga saat Leo bekerja di A, yang notabene pekerjaan itu tidak disukai Leo, daripada Leo bekerja di tempat B yang sebenarnya sangat disukai Leo. Di akhir sesi telpon itu, ada ungkapan yang menarik dari Leo, ”mementingkan kepentingan umum dibanding kepentingan pribadi.”

Kepentingan umum harus lebih diutamakan dari kepentiangn pribadi, kalau tidak salah kata-kata itu sering sekali aku dengar saat duduk di bangku SMP-SMA, pada saat pelajaran PPKN. Memang sikap itulah yang harus dilakukan kita sebagai warga negara yang baik. Karena sikap itu adalah cerminan dari PANCASILA sebagai dasar negara kita. Jika itu bisa dilakukan oleh setiap warga negara Indonesia, negara kita pastinya akan mencapai Keadiln Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, dan pastinya nggak akan ada lagi keributan, permusuhan, pembunuhan atau hal-hal negatif yang menghancurkan negara ini. Tapi yang ada di negara kita ini ya itu…, ada keributan, pembunuhan, permusuhah dan yang lainnya. Itu berarti kita belum bisa mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Yang selama ini terjadi adalah kepentingan pribadi yang diutamakan duku baru kemudian kepentingan umum.

Pada dasarnya manusia itu kan sangat egois, susah jadinya kalau harus berkompromi dengan ego sendiri hanya untuk orang lain. Hanya orang-orang hebat yang bisa mengambil sikap seperti itu, yang berani berkorban demi kepentingan orang banyak. Leo adalah salah satu orang hebat itu, dia bisa mengalah, yang penting orang-orang yang dulu menganggapnya nakal, suka menghambur2kan uang dan cap2 negatif lainnya, kini berbangga hati saat Leo bekerja di A.

Kenapa aku posting cerita ini, karena ada persamaan nasib antara aku dan Leo. Ayahku sangat menginginkan aku bekerja di A dan saat aku memilih untuk tidak bekerja di A, dan memilih di B, aku harus perang dingin dengan Ortu dan selama hampir 1 tahun hubunganku dengan ortu, khususnya Ayah sangat-sangat tidak harmonis. Lalu kemudian dengan berbagai pertimbangan-pertimbangan yang matang, aku mengikuti seleksi di A, lalu diterimadan terbukti respon yang aku terima dari keluargaku jadi berbalik 180%, hubungan aku dan Ayah langsung bagus dan kelurgaku juga bangga luar biasa, respon yang tidak aku dapat saat aku bekerja di B.

Sebenarnya dalam lubuk hati yang paling dalam, aku belum 100% ikhlas untuk bekerja di A dan meninggalkan B. Tapi sudahlah, kalau kemudian yang A lebih bisa membahagiakan ortu dan kelurga, lambat laun aku pasti bisa menerimanya. Apa yang menurut kita bagus, ternyata belum tentu membuat orang-orang disekitar kita juga bagus.Yang bisa aku lakukan sebagai seorang anak, tentunya ingin membuat mereka –Ayah dan Ibu- bahagia dan bangga mempunyai anak seperti aku.

Buat kedua orang tuaku, terima kasih telah melahirkan aku, membesarkan aku, mendidik aku, dan membuat aku bangga punya orang tua seperti kalian.

Terima kasih untuk semuanya…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s