Sholat Jum’at yang Tak Biasa

250px-shalatanakkecil Sholat Jum’at adalah aktivitas sholat para pemeluk agama Islam yang dilakukan secara berjama’ah pada waktu sholat Dzuhur.

Semua tahu kok tentang itu dan sudah menjadi kewajiban para muslim untuk melaksanakan Sholat Jum’at. Tapi… sholat yang satu ini bukan sembarang sholat, bukan sebatas sholat yang khusus dilakukan di hari Jum’at. Ada syarat dan rukun terntentu untuk kesempurnaan sholat Jum’at. Tapi lagi… kita tahu sudah aturan2 itu seperti apa, tapi dan tapi lagi… toh kita masih tetap meng-GAMPANG-kan sholat itu.  Seolah2 memang semua aturan yang dibuat di dunia ini memang harus dilanggar. Buktinya apa? Buktinya ada di postingan saya berikut ini.

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, dan itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (QS 62: 9)

Waktu masih anak2, sholat jum’at dilakukan seperti kebanyakan anak yang lain. Pulang sekolah mandi trus berangkat ke Masjid. Sampai Masjid saat Khutbah, kita asyik ‘khutbah sendiri dengan teman-teman yang lain’. Sering mendapat teguran dari orang2 tua yang mendengar khotbah2 kami, Gak boleh ngomong kalau ada yang sedang Khutbah. Memang apa yang dikatakan para orang tua itu benara100%, tapi berhubung naluri seorang anak2, hirauan itu hanya berlaku sebentar, tak lama kami pun sibuk dengan obrolan kami seperti semula. Maklum masih anak2, jadi boleh melakukan apapaun, secara beum tahu mana yang benar dan yang salah.

Berhenti dari segala pembicaraan dan perbuatan sia-sia apabila imam telah datang

Waktu SMP, kebetulan saya masuk sekolah Islami, MTs (Madrasah Tsanawiyah), jadi pelajaran agama lebih banyak dan tentu peraturan2nya lebih ketat dibanding sekolah umum lainnya. Balik lagi masalah sholat Jum’at, ada peraturan khusus bagi murid laki-laki untuk melakukan sholat Jum’at di Masjid terdekat dari sekolah. Jam pelajaran yang hanya sampai jam 11 siang pada hari jum’at, ditambah dengan acara Muhadarah (Acara pengajian yang semua diisi oleh semua siswa secara bergantian), jadinya waktu selesai sekolah mendekati waktu Sholat Jum’at. Yang parah, masih ada absensi khusus bagi siswa saat melaksanakan sholat jum’at. Besoknya dihari sabtu, pasti selalu ada siswa yang dipanggil guru coz nggak ikut sholat jum’at di masjid yang ditentukan pihak sekolah. Terkadang juga aku harus berrhadapan dengan guru sekolah, coz bolos saat aku memilih tidak sholat jum’at di Masjid yang ditentukan sekolah. Peraturannya agak aneh memang, tapi benar juga sih, sebagai langkah agar murid-murid disekolah benar-benar sholat jum’at. Karena saat dirumah, nggak ada yang tahu siswa sholat atau tidak.

“Shalat Jum’at itu wajib bagi tiap-tiap muslim, dilaksanakan secara berjama’ah terkecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang yang sakit.” (HR. Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih)

Next, SMU saya memilih untuk melanjutkan studi berbarengan dengan tinggal di pondok pesantren. Lagi2 ada hal sepecial or gak biasa yang terjadi di tempat aku tinggal. Berhubung kamar yang aku tepati berada di sebelah kiri masjid dan bangunan itu menyatu dengan masjid, even berada di lantai dua, tak ada sekat yang memisahkan sehingga sholat pun bisa dilakukan dari kamar. Tapi hanya untuk sholat yang dihadiri oleh jamaah yang jumlahnya banyak sehingga jamaah dibawah bisa terlihat dari jamaah diatas, jadi sholat tetapa bisa dilakukan. Hmmm… namanya apa ya? Awal2 sih agak heran melihat senior2 saat sholat jum’at tidak turun tapi tetap stay dikamar. Lama kelamaan pun aku meniru hal yang tidak baik dri senior aku. Akhirnya jadi keasyikan sholat jum’at di kamar. Saat yang dibawah sedang khusus mendengar khutbah jum’at, kami yang diatas sebuk dengan urusan masing2; ada yang masih stay smoking, ada yang baca buku, ada yang tidur-an atau masih bertelanjang dada. Maklum semua dilakukan dikamar masing2! Saat sholat dimulai, barulah semua bergerak membuka pintu kamar masing2, menyatu dengan jamaah lainnya. Aneh bin ajaib!!!

250px-sbyshalatjumatistiqlal

Di Yogyakarta, tempat selanjutnya aku menuntut ilmu, awalnya biasa saja, tidak ada yang istimewa, sama dengan kota2 lainnya. Moment itu datang saat saya sholat Jum’at di sekitar kost tempat aku tinggal. Di daerah Papringan Demangan Baru. Karena adanya kesibukan, sibuk tidur atau sibuk ngobrol, akhirnya datang ke Masjid jadi agak telat. Dari kejauhan Adzan sudah berkumandang, tapi aku baru mau mulai mandi. Begitu selesai dan berangkat kemasjid, terdengar suara2 orang teriak dari arah masjid. Begitu sampai masjid, benar saja, ternyata sang khotib (Orang yang kHutbah) sedang marah2. “Marah dengan siapa? “ tanyaku dalam perjalanan. Ternyata, yang dimarah adaalah aku besrta jemaah jemaah yang datangnya telat, yang ngobrol di masjid atau yang masih asyik merokok di serambi masjid. “Waktu sholat sudah dimundurkan 10 menit agar para karyawan tidak telat ke masjid, tapi malah semakin banyak yang datang telat!” kata-kata pedas itu keluar dari sang khotib. Baru kali ini ada khotib yang terang2an marah ditengah2 pelaksanaan sholat jum’at. Besoknya saya tidak mau dong dimarah2 lagi seperti kemaren, akhirnya aku memutuskan pergi tepat waktu. Tenyata bapak itu kembali khutbah, dan seperti kemarin dia pun mulai marah2 saat khutbah berlangsung. Tentu bukan lagi aku sasarannya, tapi orang lain. Setelah itu, tak pernah lagi aku melihat bapak itu, jangan2 akibat kberaniannya menegur para jama’ah, pihak masjid tidak mengundangnya kembali. Entahlah…

“Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at seperti mandi jinabat, kemudian dia pergi ke masjid pada saat pertama, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor unta dan siapa yang berangkat pada saat kedua, maka seakan-akan ia berkurban dengan seekor sapi, dan siapa yang pergi pada saat ketiga, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor domba yang mempunyai tanduk, dan siapa yang berangkat pada saat keempat, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor ayam, dan siapa yang berangkat pada saat kelima, maka seolah-olah dia berkurban dengan sebutir telur, dan apabila imam telah datang, maka malaikat ikut hadir mendengarkan khutbah.” (Muttafaq ‘alaih)

And the end, saat sholat di masjid dekat rumah di Palembang, masih ada anak2 yang sibuk khutbah sendiri, tapi tak ada lagi absensi, tak ada lagi yang berleha2 saat dikamar, dan masih ada juga yang telat tanpa dimarah2 dulu sama sang pengkhutbah. Yang ada adalah, saat sudah takbiratul ihram menjelang sholat, masih ada saja orang yang baru datang, atau saat takbir sholat masih ada yang dalam perjalan menuju ke masjid. Masya Allah!!!

3 thoughts on “Sholat Jum’at yang Tak Biasa

  1. Ya memang sebuah fenomena yang sangat ironis sekali, ditempat saya juga seperti itu, banyak jamaah yang justru sengaja berbuat hal-hal seperti itu, sungguh, andai saja mereka tahu apa faedahnya datang cepat atau di shaf pertama pasti saling mendahului, sayangnya masalah fahala hanyalah hak Allah diberikan pada siapa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s