Sudut di Sebuah Coffee Shop -Part II-

Pulang kuliah aku dan Deni mampir ke Gramedia, mencari buku referensi untuk tugas kuliah. Pengunjung Gramedia sore itu ramai sekali, membuatku kurang nyaman untuk membaca buku lebih lama disana. Setelah mendapatkan bukunya, aku langsung bergegas menuju kasir untuk membayarnya.

“Siang…,” suara seorang cewek menghentikan langkahku.“…kamu yang nabrak aku kemarin kan?” tanya cewek itu.

Aku amati wajah yang kini ada dihadapanku. Wajah itu…, wajah yang dulu pernah ada dalam hatiku, wajah yang selalu aku rindukan, wajah yang dulu hilang saat aku mengejarnya, sekaligus wajah yang pernah membuat aku terluka. Kenapa kini datang saat aku sudah melupakan semuanya? “Oh ya?” jawabku dingin.

“Mungkin kamu sudah lupa, sudahlah kalau begitu. Maaf menganggu,” ujar cewek itu dan langsung berlalu meninggalkanku. Sepertinya dia sedikit malu karena aku tidak mengenalnya. Dari kejauhan aku masih melihat dia sedang asyik membaca sebuah buku. Ternyata dia tidak langsung pulang, atau kemungkinan dia baru datang dan begitu melihatku dia langsung menyapaku. Ada pertentangan batin dalam diriku, antara menemuinya kembali atau benar-benar melupakannya. Jika dia memang dihadirkan Tuhan untukku, inilah saat yang tepat untuk menemuinya dan lebih mengenalnya. Mungkin Tuhan masih memberikan kesempatan ke empat untukku. Aku menunda membayar buku di kasir lalu menemuinya. Langkah demi langkah terasa begitu berat untuk mendekatinya. Aku grogi atau aku ragu untuk mengenalnya? Entahlah… Lanjut membaca

Sudut Di Sebuah Coffee Shop

Keinginan untuk bisa menikmati Capucino telah menghantarkanku di sebuah Coffee Shop yang baru buka disebuah Mall. Tak ada yang spesial saat aku melihat Coffee Shop tersebut, tata ruang dan suasananya tak beda dengan Coffee Shop lain yang bertebaran di Jakarta. Capucino minuman kegemaranku pun tak kudapati rasa yang beda dengan Capucino yang aku minum di tempat lain. Tak apalah, toh masih harga promosi, setidaknya aku tidak merasa rugi harus menjatuhkan pilihanku kesini.

Dari sudut tempatku duduk di Coffee Shop ini, aku bisa melihat lalu lalang pengunjung Mall. Tak jarang aku mendapati orang-orang yang aku kenal jalan bersama keluarga, pacar, atau mungkin… selingkuhan! Tak terasa sudah dua jam waktu aku habiskan disini. Biasanya kalau lagi sendiri di Coffee Shop, aku akan langsung setelah minuman atau makanan yang aku pesan tandas. Tapi… entah kenapa aku merasa begitu nyaman duduk di tempat ini. Saat aku putuskan untuk pulang, ada sebuah kerinduan untuk bisa kembali lagi ke tempat ini. Lanjut membaca

Tak Bisa Memilihmu

Langkah ini begitu berat saat aku harus melangkah pulang menuju apartemenku. Bukan apartemenku yang aku takuti, tapi Andre. Sosok lelaki yang selama 5 tahun ini menemaniku tiba-tiba menjadi sosok yang paling menakutkan di dunia. Aku takut Andre tahu apa yang terjadi dan lalu pergi meninggalkan aku seorang diri. Aku begitu mencintainya dan tak ingin kehilangan dia.

Perlahan aku membuka pintu apartemenku dan seketika itu juga sebuah wajah tampan ada didepanku. Tersenyum padaku. Oh Andre, bisikku dalam hati, wajahmu begitu tampan. Setampan kasih sayangmu selama ini padaku. Itu alasan kenapa selama ini aku bahagia selalu bersamamu dan tidak mau kehilanganmu. Tapi, setelah apa yang aku perbuat, apa aku pantas untuk tetap bersamamu? Lanjut membaca

Percakapan seorang Bayi dengan Tuhan

Suatu ketika seorang bayi siap untuk dilahirkan. Menjelang diturunkan, sang bayi bertanya kepada Tuhan, ”Para malaikat disini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimkanku ke dunia, tapi bagaiamana aku bisa hidup disana? Saya begitu lemah dan kecil,” kata si Bayi.

Tuhan menjawab, “Aku telah memilih satu malaikat untukmu, ia akan menjaga dan mengasihimu.

Tapi disurga, apa yang saya lakukan hanya menyanyi dan tertawa,  itu sudah cukup untuk membuat saya bahagia,” demikian kata sang bayi.

Tuhan pun menjawab, “Malaikatmu akan tersenyum dan bernyanyi untukmu setiap hari. Dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan akan jadi lebih bahagia.

Si bayi pun bertanya kembali, ”Dan apa yang dapat saya lakukan saat saya ingin berbicara kepadaMu?

Sekali lagi Tuhan menjawab, ”Malaikatmu akan mengajarkanmu bagaimana cara berdoa.Lanjut membaca

170809

-160809-

Tempat tidur itu sepertinya lebih menggoda untuk segera aku datangi daripada deretan hurup yang tertata rapi di layar laptopku ini. Dua jam sudah mata ini tak berhenti bertatapan dengan layar datar itu sembari jari jemariku menari lincah diatas keyboard. Huh! Inilah resiko menjadi seorang bawahan, selalu diperintah dan tidak punya kuasa menolak. Waktu liburan yang seharusnya aku gunakan untuk bersantai ria, sedikit terganggu dengan kerjaan kantor yang dilimpahkan sang bos padaku.

Jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Aku putuskan untuk mengakhiri pekerjaan ini. Mata sudah terasa begitu lelah, ingin segera terpenjam. Kalau dipaksakan hasilnya pun nanti tidak akan maksimal. Aku lalu beranjak ke tempat tidur dan langsung tidur.

Hey, apa kabar?” tanya seorang cewek cantik yang tiba-tiba menghampiriku yang sendirian duduk di pojok sebuah Cafe. Lanjut membaca

Ke-Perawan-an

Manohara Odelia Pinot dan Prita Mulyasari adalah sedikit contoh dari banyaknya kasus yang menimpa kaum hawa di negeri kita tercinta ini. Bukti dimana kaum hawa selalu menjadi korban dari dunia patriaki yang kebanyakan selalu berpihak pada kaum Adam. Sementara kaum Hawa hanya menjadi kaum nomor dua yang terkadang ujung2nya menjadi korban dari kesewenang-wenangan kaum Adam yang merasa derajatnya lebih tinngi dari kaum Hawa. Padahal Tuhan menciptkan hambanya dalam derajat yang sama, kecuali derajat ketaqwaan seorang hamba yang tidak mengenal Adam atau Hawa.

Begitu pula ketika bicara tentang ke-perawan-an. Perawan bisa dimaksudkan dengan panggilan seorang kaum Hawa yang belum menikah. Dan Jejaka bagi kaum Adam yang belum menikah. Hanya sebuah kata biasa…. Tapi, ketika kata itu mendapat awalan dan akhiran ke-an, kata itu berubah menjadi sebuah kesucian. Keperawanan a.k.a kesucian.

Jujur saya nggak tahu kenapa (maaf) bagian puser ke bawah bagi kaum Hawa dianggap sebuah kesucian? Apa nggak ada hal lain yang bisa juga disebut sebuah kesucian selain bagian itu bagi seorang kaum Hawa? Hatinya kah, atau bagian lainnya… Bukankah kaum Hawa tercipta dengan beragam Keindahan?

Kesucian yang harus dijaga dan nantinya akan diberikan kepada suami tercinta, sebagai bentuk penghargaan kepada suami. Ketika kesucian itu hilang belum pada waktunya, maka rusaklah semua keindahan yang melekat pada kaum Hawa. Cap negatif langsung disematkan pada kaum Hawa tersebut. Lalu apa kabar dengan keperjakaan seorang Adam, apa  juga selalu dijaga untuk Isterinya kelak?

Dunia ini memang nggak adil. Ketika seorang Adam hilang keperjakaannya, dunia akan diam, seolah tak tahu apa yang terjadi. Sebaliknya, ketika sang Hawa hilang keperawanannya, maka dunia akan berkoar-koar menghakimi sang Hawa.

Wacana ini sangat-sangat sensitif dan nggak mudah untuk menjabarkannya. Takutnya, yang awalanya pengen bersikap netral malah ujung2nya berpihak pada salah satu pihak. Ini adalah masalah yang sangat prinsipil bagi kaum Adam dan kaum Hawa, wajar kalau kemudian muncul perdebatan-perdebatan panjang membahas masalah ini. Lanjut membaca

The soundtrack Of Jomblo

Ibu-ibu bapak-bapak
Siapa yang punya anak
Bilang aku aku yang tengah malu
Sama teman-temanku
Karna cuma diriku yang tak laku-laku

Tahu dong lirik diatas lagunya siapa? Yup, lagunya Wali Band yang judulnya Cari jodoh, sedang hit dimana-mana. Di tv, Radio ampe di jalan-jalan pasti sering kita dengar lagu itu. Secara musiknya memang riang, liriknya juga mudah dicerna plus punya meaning yang jelas, apalagi kalau bukan untuk cari jodoh.

Kenapa ya lagu ini bisa booming? Hmmm…. selain hal2 teknis tentang musik dan lirik lagu ini yang merakyat, apa juga karena ini ada hubungannya dengan indikasi banyaknya jomblo-jomblo di negara kita tercinta ini yang hopeless?! *May be No, May be yess! Lanjut membaca

Bukan Cinta Biasa

bukan_cinta_biasa_posterNggak ada alasan lain ketika saya memutuskan untuk memilih menonton film ini, film Bukan Cinta Biasa. Kecuali karena hanya pengen nonton film langsung di Bioskop. Ya…secara sudah lama ‘puasa’ nonton film di Bioskop atau kerennya Studio 21. *Maklum, sekarang tinggalnya di kampong hiks hiks hiks….

Film ini dimulai dengan kehadiran seorang cewek ABG bernama Nikita (Olivia Lubis Jensen) di rumah vokalis band Rock Metal, The BOXIS, Tommy (Ferdy ‘Element’). *Sesuai dengan nama bandnya, tampang-tampang personilnya boxis abis tuk bilang kalau mereka para Rocker…, lebih cocok jadi pelawak kayaknya xixixixi…..

Dengan bermodal sebuah foto yang diberikan sang Ibu, Lintang (Wulan Guritno), bahwa lelaki yang ada di foto itu adalah bapaknya. Entah bagaimana ceritanya ‘ujug-ujug’ Nikita sudah ada di depan rumah Tommy, Vokalis Band Boxis sekaligus orang yang ada di foto itu. Dengan bantuan Nikita lah, Tommy akhirnya dipertemukan dengan Lintang. *Saya seh berharap Nikita nggak langusng ke rumah Tommy, nyasar dulu ke kemana. Trus saat Tommy ama Lintang ketemu, biasanya seh ada flashback cerita jadul yang tiba-tiba muncul di tengah adegan dengan layar hitam putih, huhh….sampai akhir cerita, semua mau saya nggak terkabul! Lanjut membaca

I’m Single n Very Happy

“Kamu percaya nggak rezeki-nya orang nikah?” tanya sepupu iparku yang akhirnya bersua setelah 4 tahun tak bertemu. “….waktu awal nikah dulu saya belum punya pekerjaan tetap, tapi Alhamdulillah  setelah nikah dapat panggilan kerja dan akhirnya  bisa keterima,” lanjutnya lagi.

Saya kurang setuju dengan istilah itu. Yang namanya Rezeki itu Tuhan sudah digariskan ada dimana-mana dan kapanpun ada selama kita mau berusaha keras untuk meraihnya. Kalau kemudian dikorelasikan dengan sebuah pernikahan, itu dikarenakan dalam sebuah Pernikahan ada sebuah tanggung jawab sebagai suami untuk bisa menafkahi Isteri. Sehingga kerja apapun akan tetap dilakukan selama bisa untuk menghidupi anak dan isteri. Dan karena sudah tak lajang lagi, otomatis istilah foya-foya yang sering dilakukan saat masih lajang sudah ditinggalkan. Rezeki pun terkumpul, kleihatan, tidak langsung hilang tanpa jejak seperti saat ketika masih lajang.

Siapapun sebenarnya bisa melakukan itu. Selama ada kemauan pasti ada jalan. Apalagi kalau sudah yang namanya kepepet! Malah dari hal-hal yang kepepet itu kadang muncul suatu yang luar biasa. Tapi, saya bukan orang yan suka berada dalam keadaan kekept. Terlalu beresiko bagi saya! Ditambah saya bukan orang yang suka mengambil resiko-resiko dalam hidup saya. Padahal setiap hal yang kita lakukan selalu akan berhadapan dengan sebuah resiko. Termasuk dalam sebuah pernikahan. Tapi setidaknya saya akan meminimalisir resiko-resiko yang akan saya hadapai pasca terjadinya sbeuha pernikaan dengan persiapan dan kesiapan yang matang.

*****

“Ibu nggak pengen seperti Ibu itu?” tanya adikku pada Ibu saat  saya, Ibu dan Adikku sedang berada di teras rumah.

“Pengen Ibu berdandan seperti itu? Pake baju dan celana ketat?” Balik Ibu bertanya pada adikku. Memang Ibu yang dimaksudkan oleh adikku punya penmpilan yang cukup berani di usianya yang sudah agak senja.

“Bukan itu!”

“Trus… apa?” tanyaku ikut nimbrung.

“Ibu itu kelihatan bahagia sekali bercanda dengan cucunya…” Sebagai anak tertua yang sudah memasuki usia yang pantas dan layak untuk menjalani sebuah pernikahan, tentu saya langsung merasa tersindir dengan ucapan itu.

“Nanti kalau waktunya tiba toh Ibu juga akan mengendong cucu,” jawab Ibuku bijak. Huuh.. beruntung sekali saya punya Ibu yang cukup bijak. Mengerti akan keadaan putranya yang memang belum siap menikah. Semua pasti akan terjadi jika waktunya tepat. Ya, seperti lagunya Delon, Indah pada waktunya. Tapi sebagai anak saya pun nggak bisa egois untuk selalu minta pengertian orang tua saya. Saya pun juga harus mengerti juga mereka, di usia senjanya Tapi…itu, tentu dalam hati yang paling dalam mereka sudah berharap kepada saya untuk memberikan cucu but mereka. Tapi saya nggak bisa memaksakan sesuatu yang memang belum menjadi rencana Tuhan bagi saya dan keluarga saya.

“Iya Ibu belum mau di panggil Nenek, tapi saya udah pengen dipanggil om,” jawab adikku.

*****

42-17914562Sindiran kanan kiri sudah terlalu sering mampir di telingku, ditambah kalau ada tetangga yang nikah, yang notabenenya usianya masih dibawah usia saya. Sudah deh… jadi santapan empuk buat diejek-ejek. Saya sih santai saja terkadang sebal juga dengan semua itu. Santai, Karena masih banyak orang-orang yang lebih tua dari saya dan belum menikah. Sebal karena terlalu sering orang-orang disekitar saya untuk cepet menikah.

Kalau sudah begitu, tak lain dan tak bukan saya mengadu pada Tuhan, minta semoga cepat diberikan jodoh dan kesiapan untuk segera menikah. Dan nggak ketinggalan selalu dan always baca doa lajang…..

Kok Jadi Rapuh Ya, Tanya Kenapa?

Dulu… saat sendiri, tanpa seorang kekasih, being a single,,, kita bisa mandiri… apapun bisa kita lakukan seorang diri, selama kita mampu tanpa melibatkan org lain…kalo emang gak mampu, mentok2nya kita minta bantuin sahabat, keluarga atau orang terdekat kita…. bener kan?!!!

Semua berubah saat kita mendapatkan someone special dalam hidup kita, apapun yg kita jalani selalu berdua,,,dibicarakan berdua, makan berdua….*wajarlah…namanya juga pacaran hehehe…masak harus bertiga, gak mungkin, kan?!!*

Dan ketika hubungan itu harus berakhir dengan alasan2 tertentu…

Semuanya kembali berubah…kita merasa kehilangan yg sangat…wajar seh!!! Lanjut membaca